Senin, 26 November 2012

My Journey

Sudah berjalan 3 bulan... Bulan ke-4 pun hampir berakhir.
There's soooooo many things had happened. And still haven't adapted to all whatever going on here. Ternyata adaptasiku payah ya.. Aku tidak sehebat yang aku kira selama ini.
Sampai detik ini, aku masih jadi "locus minoris", "sasaran tembak", black sheep of the family.. and everything else they said about me.

Memalukan sekali..
Aku yang tertua, aku yang militer, aku seharusnya jadi role model buat yang lain, aku seharusnya jadi good influence buat sekitarku, aku yang seharusnya jadi someone to look up to.. But I failed them all. Aku sangat malu, sedih, patah hati, dan hampir menyerah.. Menerima kenyataan bahwa aku lemah dan tidak mampu.

Tapi tidak...
I will not let that happen. Biarkan saja mereka mau bilang apa tentangku. Silahkan membantaiku habis-habisan. I will fight. Fight with the right way. I will show myself that I'm good at what I have been choosing. I will live my life my own way. I've gone thru this far. I've sacrificed so much. I will not anybody underestimate me no more,

In few more days, junior kami akan datang. There's more eyes watching and observing. And they all will judge us (me). Aku tidak bisa santai-santai lagi. Mereka bilang aku harus berusaha lebih keras kalu mau selevel dengan yang lain. I will..
I've had enough with all of this nonsense.

Dear Lord, have mercy on me..
Kau yang telah memilihkan jalan ini untukku, Kau yang telah meletakkanku disini. Kau yang Maha mengetahui kemampuan hamba-Mu, maka dengan seluruh jiwaku, aku memohon pada-Mu, tolonglah aku... Karena tanpa pertolongan-Mu, aku tak akan bisa..
Amin..

Rabu, 19 September 2012

Sekolah itu Gak (Selalu) Enak

Dari dulu... Aku selalu suka sekolah.
Aku selalu suka membaca. Walaupun kapasitas memoriku pas-pasan, dan aku bukan termasuk murid cerdas yang cepat menangkap pelajaran yang kuterima, tapi aku rasa aku lumayan rajin belajar. Aku bersyukur aku adalah seorang pecinta buku. Aku lebih memilih menghabiskan ratusan ribu untuk belanja buku daripada untuk fashion atau yang lain.

Aku juga pernah bercita-cita untuk sekolah seumur hidupku. Kurasa sekolah itu enak. Menuntut ilmu tiada henti.  Diselingi dengan ujian-ujian dan tes.. Harap-harap cemas menunggu hasilnya.. Dan kepuasan tersendiri kala hasil yang keluar memuaskan. Artinya kita bisa memacu diri dan sanggup bersaing dengan yang lain untuk menaklukkan soal-soal yang diberikan para guru.

Tapi setelah berkeluarga, dengan anak-anak di sekeliling, yang menuntut untuk diperhatikan juga.. Sekolah menjadi tak seenak dulu. Jadi jauuhhh lebih berattt...
Apalagi dengan bertambahnya usia, kemampuan otak dan memori yang berkurang, konsentrasi yang terpecah belah.. Sungguh, sekolah adalah tantangan yang luar biasa.
Membaca buku jadi tak senikmat dulu, karena selalu dikalahkan oleh si kecil yang datang dan menyita perhatian. Mengerjakan tugas pun jadi berlipat kali terasa berat dan lebih lama. Apalagi untuk berkumpul dan hang-out bersama teman-teman.

Prioritas kini sudah berubah. Ambisi pribadi untuk sekolah setinggi langit, berburu beasiswa keliling dunia, sudah dikalahakan oleh hasrat keibuan untuk selalu bersama keluarga, terutama anak-anak.
Tapi sekarang sudah kepalang basah..
Sudah sejauh ini melangkah. Sudah susah payah berjuang untuk sekolah, sudah berkorban jiwa, raga, waktu, tenaga, biaya, semuanya, aku pastinya tak boleh menyerah. Bukan cuma aku yang sudah berkorban. Tapi juga semua orang di sekelilingku. Anak-anakku yang selalu kutinggalkan, Ibu dan saudaraku yang berlelah-lelah kerepotan menjaga anak-anakku, suamiku yang terpaksa mengurus dirinya sendiri (lagi), semuanya sudah berkorban bersamaku. Untuk mereka lah aku tak akan menyerah. Aku harus terus berjuang dan bertahan walaupun harus berpeluh darah.

Awal-awal sekolah sungguh jadi masa yang melelahkan. Belum sempat belajar apapun, tapi dipaksa untuk tahu semua hal. Kalau ada yang tidak tahu, dicaci, dimaki dan pasti jadi bulan-bulanan. Harus bisa menyeimbangkan antara : Bekerja (merawat pasien) - belajar - jaga - ekstrakurikuler - tugas tambahan - tugas hukuman - keluarga.. Entah, bagaimana caranya.
Mereka bilang : belajar sambil jalan.. Kalau jalan di tempat sih mungkin bisa sambil belajar. Tapi kalau jalan cepat atau bahkan lari seperti ini? Bagaimana bisa belajar? Apalagi kapasitas otak pas-pasan begini. Terus terang aku minder di tengah teman-teman yang lain. Aku yang paling tidak tahu apa-apa. Aku sempat ragu apa aku bisa menyejajarkan langkah dengan yang lain..
Tapi hidup harus optimis. Tak boleh menyerah sebelum mencoba. Aku harus bisa!

Anak-anakku, semoga cita-cita kita lekas tercapai, sehingga pengorbanan kita tak sia-sia. Kalianlah penyemangatku..
I love you...


The Ladies and The Boyz



Minggu, 09 September 2012

Struggling to Survive

Dulu, aku pikir perjalanan hidupku landai-landai saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada gelombang tinggi, hanya riak-riak halus yang tak berarti. Allah swt tidak pernah mengirimkan ujian yang berat untukku. Sampai kadang dalam hati aku bertanya, apa menurut Allah swt aku tak sanggup kalau ditimpakan ujian yang berat? Ataukah aku belum layak "naik kelas" sehingga aku belum diuji?

Tapi semua mulai berubah beberapa tahun yang lalu. Saat Allah menimpakan ujian yang luar biasa, dan ternyata aku tidak lulus. Sejak saat itu, rasanya ujian demi ujian silih berganti dalam berbagai bentuk. Dan semua itu membukakan mataku, bahwa hidupku tidak landai lagi. Aku harus benar-benar berusaha sekuat tenaga kalau ingin sukses dunia akhirat. Karena aku bukanlah siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Kalau ingin menjadi seseorang yang berarti, aku harus berjuang.

Dulu, orang tuaku sangat ketat mendidik dan memproteksi aku dan yang lain. Akibatnya aku tak pernah ikut ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginanku, tak pernah ikut organisasi, tak pernah kumpul-kumpul bareng teman-teman, dll. Tapi sisi baiknya, aku terlindungi dari pergaulan yang salah, dari pengaruh-pengaruh buruk yang seringkali menjerumuskan remaja-remaja labil pada waktu itu. Tapi akhirnya aku "nakal". Aku melanggar salah satu larangan, curi-curi, dan akhirnya aku menyesalinya seumur hidupku.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang kusesali dalam hidupku, dimana seandainya aku diijinkan mengulang waktu, aku akan mengubahnya dan tidak melakukan hal yang sama. Tapi tentu saja itu tak mungkin. Semua sudah terjadi. Yang bisa kulakukan hanya memohon ampunan, dan berjuang semoga ke depan lebih baik lagi. Maaf, mungkin tulisanku gak jelas. Aku tidak bisa mengungkapkan semuanya secara eksplisit disini, karena sebagian merupakan aib pribadi.

Yang jelas, Allah sebenarnya sudah memperingatkan. Secara halus dan tersamar. Mungkin karena aku yang bebal dan insensitif, sehingga aku mengabaikannya. Dan sekarang aku harus mulai jadi lebih kuat. Berjuang untuk sekolahku, supaya sukses dan lancar, tidak tertinggal, tidak jadi locus minoris, tidak jadi bulan-bulanan. Dan berjuang untuk keluargaku, membesarkan anak-anakku yang diamanahkan padaku, supaya jadi generasi terbaik. Juga berjuang untuk suamiku, mempertahankan hubungan jarak jauh ini supaya tetap aman, walaupun badai mengguncang, ombak menerpa, godaan di kanan-kiri.
Semoga Allah swt meridhoi perjuangan kami ini...
Amiinnn...

Kamis, 28 Juni 2012

Untuk Anak-anakku

Anak-anakku...

Kelak ketika kalian menemukan tulisan ini, aku berharap kalian bisa mengetahui, betapa sesungguhnya aku sangat mencintai kalian. Walaupun dengan cara yang aku tahu. Aku yakin aku tak cukup memenuhi harapan kalian, tak bisa jadi sesempurna seperti yang kalian mau.. Tapi itulah caraku mencintai kalian. Tak selalu terungkap secara nyata, namun percayalah, cintaku pada kalian tak ada yang menandingi. Tak ada manusia lain yang menyayangi kalian lebih besar dan lebih tulus daripada aku..

Anak-anakku...

Sekarang kalian masih terlalu kecil untuk mengungkapkan kekecewaan, atau ketidak puasan kalian terhadapku. Tapi percayalah, aku tahu apa isi hatimu. Malam-malam saat kalian tidur tanpa aku di sisi, sesungguhnya aku menangis merindukan kalian. Saat kalian sakit, dan orang yang kalian panggil bukan aku, hatiku lebih sakit bagai teriris sembilu. Saat kalian ingin bermain, dan orang yang kalian cari bukan aku, aku merasa seperti orang terbuang yang tak dibutuhkan siapapun di dunia ini.  Saat kalian tumbuh besar dan cerdas, dan bukan aku yang mengajari kalian, bukan aku yang ada disana melihat kalian melakukan sesuatu dengan sempurna untuk pertama kalinya, aku merasa tak berguna hidup dan pendidikanku selama ini.  Dan aku sangat tahu, kalian sebenarnya ingin aku ada untuk kalian, but I wasn't there..

Anak-anakku...

Mungkin di mata orang lain, aku ini Ibu yang lebih memilih karier dan pekerjaan dibanding kalian. Aku nampak asik dan menikmati kesibukanku di sana-sini. Tapi mereka tak tahu Anakku, bahwa dimanapun aku berada, hati dan pikiranku selalu tertuju pada kalian, apa yang kalian lakukan saat aku jauh, apakah kebutuhan kalian terpenuhi, apakah kalian mencariku, apakah kalian merindukanku..

Anak-anakku...

Allah swt. telah menitipkan kalian padaku. Menjawab doa-doa panjangku, dan mengirimkan kalian untuk hidup di rahimku selama 9 bulan. Menolongku mengatasi rasa nyeri dan sakit saat melahirkan kalian. Menguatkanku untuk melewati malam-malam panjangku berjaga demi kalian. Memberiku kesehatan agar bisa menemani kalian bermain dan mencari nafkah untuk kalian. Memberiku ketabahan dan kesabaran saat kalian sakit..

Dan untuk itu Anak-anakku...
Aku akan mempertaruhkan apapun demi kebahagiaan kalian. Seandainya aku bisa memilih, aku akan berhenti dari pekerjaan dan kesibukanku agar bisa selalu bersama kalian. Seandainya mengundurkan diri tidak harus membayar ganti rugi 10 kali lipat... Seandainya Allah swt. tidak menitipkan ilmu padaku untuk membantu orang lain mencari kesembuhan... Seandainya kita sudah financially free... Aku pasti tak akan berpikir dua kali untuk berhenti dari semua kegiatanku demi kalian, Anak-anakku..

Tapi Anak-anakku...
Ribuan "seandainya" itu tak berarti apapun. Karena kita harus menghadapi kenyataan. Sementara ini kita memang ditakdirkan untuk hidup seperti ini dulu. InsyaAllah kelak, semoga tidak lama lagi, aku bisa membahagiakan kalian. Dengan cara apapun yang kalian inginkan. Karena kalianlah ladang amalku, sumber amal jariahku, untuk itu aku akan berjuang sekuat tenagaku.
Bersabarlah Nak,

Semoga Allah swt. mendengar doa kita....

Senin, 28 Mei 2012

Suka duka mencari downline

Wah, susah juga ya dapet downline.. Gak seperti yang dibayangkan. Maunya kan misalnya mem-prospek 10 orang, yang lanjut jadi downline minimal 5 atau 6 gitu. Tapi ternyata gak gitu. Sudah pasang iklan, sudah dapat belasan prospek, tapi belum ada yang lanjut.
Punya downline 2 pun dari spill over upline. Dan itu juga belum tentu aktif ya? Jadi begitu ternyata. Suka dukanya MLM online.. Tergantung keaktifan masing-masing. Kalau memang rejeki, memang jodoh, pasti dapat downline yang asik, aktif dan semangat. Mudah-mudahan Allah selalu kasi jalan.. Aminn..

Bulan ini aku berhasil tupo dengan total BP 113. Walaupun belum menjual, karena barang-barang itu kebanyakan kupakai sendiri, tapi lumayan lah. Dapat Tendercare gratis, dapat WP 1, dapat gratis traffic. Jaringan ini bener-bener sip deh. Orangnya asik-asik, kekeluargaannya oke, dan semua saling bantu untuk sukses sama-sama.

Oya, barang-barang oriflame bagus-bagus ya.. Aku coba semua sabun-sabunnya. Jadi makin semangat mandi. Hehehe... Ketahuan deh, kalo sebelumnya malas mandi. Pssstttt...
Aku juga coba EvenOut Day & Night creamnya. Asik juga lho.. Berasa lebih lembut di wajah.
Rencananya bulan depan aku mau coba parfumnya. Ada satu yang menarik hati....
Ntar diceritain lagi ya gimana hasilnya.. see u..
Yang mau coba juga, silahkan lho diintip di sini..

Kamis, 24 Mei 2012

Sambilan Keren

Per 16 Mei 2012 aku mulai bergabung dengan d'BC Network. Iseng-iseng berhadiah... Semoga..
Belum berani muluk-muluk, mengingat riwayatku dulu. Aku dulu juga pernah bergabung dengan MLM lain. Ternyata garis besarnya sama ya? Mungkin memang semua network MLM itu outline nya sama. Dan aku dulu tidak aktif. Karena aku malas mengejar-ngejar prospek, malas mengundang, malas menjual. Aku merasa aku tidak cukup pintar dan berbakat dalam mem-persuasi orang...

Sekarang aku mencoba memperbaiki image MLM di kepalaku, yang selama ini kuhindari.. Kalau akunya gak berpikir positif, gimana mau mengajak orang?
Dan aku pikir metode yang ini sepertinya lebih cocok untukku...
Kenapa?
1.  Karena bisa dijalankan secara online, bisa sambil browsing-browsing yang lain..
2.  Karena gak perlu ngejar-ngejar prospek, secara aku orangnya gak supel..
3.  Karena gak perlu presentasi, benci banget public speaking..
4.  Karena gak perlu jualan langsung, soalnya gak punya jiwa dagang..

Nah, mudah-mudahan yang kali ini bisa lebih lancar, sukses, berkah, bisa jadi tambahan income yang bermakna buat keluarga..
Amiiinnnnn...

Yang mau ikutan gabung, yang se-tipe sama aku, yang pingin tambahan income, yang pendiam, yang gak bisa jualan, yang males ikut kumpul-kumpul... coba disini deh...

Senin, 14 Mei 2012

Kisah Bapak Tua

Bapak tua itu berlutut disana, di bawah pohon yang tidak begitu rindang.. Sebelah tangannya memegang gagang panjang sapu lidi, dan sebelah lagi menopang dahi keriputnya. Sekali waktu dia menghela nafas panjang sambil mengusap kedua matanya seolah ingin membuang jauh-jauh kegelisahan hatinya. Matanya nanar memandangi anak-anak asuhnya yang terlelap di bawah bayangan dedaunan. Tak rela rasa hatinya, bahwa sebentar lagi dia harus meninggalkan mereka semua.

Sudah 46 tahun terakhir bapak tua itu mengabdikan waktunya di sana. Mengasuh, menjaga, membesarkan, mendidik, bermain dan bercanda dengan anak-anak asuhnya. Walaupun musim datang dan pergi silih berganti, anak-anak asuhnya pun beranjak besar dan satu-per satu pergi meninggalkannya, dan ada pula yang datang menggantikan, sehingga tak pernah sepi hatinya dari tingkah polah anak-anaknya itu. Tapi kali ini berbeda, dialah yang akan pergi meninggalkan anak-anaknya.

Usia yang tak lagi muda, dianggap oleh atasannya akan mengurangi efektifitas dan efisiensinya dalam melanjutkan tugas-tugasnya disana. Karena anak-anak asuhnya sangat besar dan kuat, dia dirasa tak cukup mampu lagi menangani mereka. "Harus ada regenerasi Pak, Bapak sudah waktunya istirahat." Begitu ujar atasannya kala itu.

Dia pun beranjak berdiri, mengusap rambut putihnya yang berpeluh dibawah terik matahari sore. Masih berat rasanya memikirkan perpisahan. Dia masih ingin menghabiskan waktu lebih lama disini. Menikmati kesempatan yang tersisa bersama kesayangannya.. Dia berjingkat pelan mendekati salah satu anaknya yang masih kecil, berjongkok untuk mengusap punggung besarnya yang bergerigi. Si kecil menggeliat pelan dan membuka sedikit matanya untuk melihat siapa yang menyentuhnya. "Baik-baik ya Nak, jangan nakal sama pengasuh yang lain. Mudah-mudahan kita masih bisa main lagi sekali waktu. Bapak akan menengok kalian.." ujarnya bergetar. Menahan sedih di tenggorokan..

Sekali lagi dia menoleh sebelum pergi keluar pagar. Menamatkan anak-anak asuhnya yang masih diam tak bergerak disana. Buaya-buaya muara yang disayanginya...