Rabu, 19 September 2012

Sekolah itu Gak (Selalu) Enak

Dari dulu... Aku selalu suka sekolah.
Aku selalu suka membaca. Walaupun kapasitas memoriku pas-pasan, dan aku bukan termasuk murid cerdas yang cepat menangkap pelajaran yang kuterima, tapi aku rasa aku lumayan rajin belajar. Aku bersyukur aku adalah seorang pecinta buku. Aku lebih memilih menghabiskan ratusan ribu untuk belanja buku daripada untuk fashion atau yang lain.

Aku juga pernah bercita-cita untuk sekolah seumur hidupku. Kurasa sekolah itu enak. Menuntut ilmu tiada henti.  Diselingi dengan ujian-ujian dan tes.. Harap-harap cemas menunggu hasilnya.. Dan kepuasan tersendiri kala hasil yang keluar memuaskan. Artinya kita bisa memacu diri dan sanggup bersaing dengan yang lain untuk menaklukkan soal-soal yang diberikan para guru.

Tapi setelah berkeluarga, dengan anak-anak di sekeliling, yang menuntut untuk diperhatikan juga.. Sekolah menjadi tak seenak dulu. Jadi jauuhhh lebih berattt...
Apalagi dengan bertambahnya usia, kemampuan otak dan memori yang berkurang, konsentrasi yang terpecah belah.. Sungguh, sekolah adalah tantangan yang luar biasa.
Membaca buku jadi tak senikmat dulu, karena selalu dikalahkan oleh si kecil yang datang dan menyita perhatian. Mengerjakan tugas pun jadi berlipat kali terasa berat dan lebih lama. Apalagi untuk berkumpul dan hang-out bersama teman-teman.

Prioritas kini sudah berubah. Ambisi pribadi untuk sekolah setinggi langit, berburu beasiswa keliling dunia, sudah dikalahakan oleh hasrat keibuan untuk selalu bersama keluarga, terutama anak-anak.
Tapi sekarang sudah kepalang basah..
Sudah sejauh ini melangkah. Sudah susah payah berjuang untuk sekolah, sudah berkorban jiwa, raga, waktu, tenaga, biaya, semuanya, aku pastinya tak boleh menyerah. Bukan cuma aku yang sudah berkorban. Tapi juga semua orang di sekelilingku. Anak-anakku yang selalu kutinggalkan, Ibu dan saudaraku yang berlelah-lelah kerepotan menjaga anak-anakku, suamiku yang terpaksa mengurus dirinya sendiri (lagi), semuanya sudah berkorban bersamaku. Untuk mereka lah aku tak akan menyerah. Aku harus terus berjuang dan bertahan walaupun harus berpeluh darah.

Awal-awal sekolah sungguh jadi masa yang melelahkan. Belum sempat belajar apapun, tapi dipaksa untuk tahu semua hal. Kalau ada yang tidak tahu, dicaci, dimaki dan pasti jadi bulan-bulanan. Harus bisa menyeimbangkan antara : Bekerja (merawat pasien) - belajar - jaga - ekstrakurikuler - tugas tambahan - tugas hukuman - keluarga.. Entah, bagaimana caranya.
Mereka bilang : belajar sambil jalan.. Kalau jalan di tempat sih mungkin bisa sambil belajar. Tapi kalau jalan cepat atau bahkan lari seperti ini? Bagaimana bisa belajar? Apalagi kapasitas otak pas-pasan begini. Terus terang aku minder di tengah teman-teman yang lain. Aku yang paling tidak tahu apa-apa. Aku sempat ragu apa aku bisa menyejajarkan langkah dengan yang lain..
Tapi hidup harus optimis. Tak boleh menyerah sebelum mencoba. Aku harus bisa!

Anak-anakku, semoga cita-cita kita lekas tercapai, sehingga pengorbanan kita tak sia-sia. Kalianlah penyemangatku..
I love you...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar