Pernah
nonton Criminal Minds? Serial kriminal yang tayang perdana tahun 2005 dan masih
diperpanjang sampai musim ke-13 tahun 2017 ini salah satu menu tontonan favorit
saya. Sejak berkenalan dengan Lima Sekawan, Trio Detektif dan Pasukan Mau Tahu
hampir 30 tahun yang lalu (tua ya, saya?), saya nggak doyan lagi dengan genre
film atau buku selain kriminal (dan fantasi). Betewe, serial ini menyorot sisi lain FBI,
yaitu divisi Behavioral Analysis Unit (BAU) yang menitikberatkan pada
pengenalan profil (profiling) dari
pelaku kejahatan, bukan berfokus pada kejahatan itu sendiri.
Salah satu spin-off nya, yang Suspect Behavior, ini yang agak menarik perhatian (walaupun rating-nya jeblok). Episode-episodenya
menceritakan tentang upaya dari tim jagoan ini menguak misteri dari berbagai
pembunuhan berantai, menemukan pelaku dengan cara mengumpulkan data dan
menyusun profil dari si penjahat. Dan seringkali, ternyata yang melatar
belakangi dilakukannya tindak kriminal oleh si pelaku, adalah adanya trauma
masa kecil. Bully oleh teman-teman
sekolah, orang tua yang abusive atau
memang pernah melihat atau menjadi korban tindak kriminal sewaktu kecil.
Intinya apa?
Intinya adalah, segala sesuatu yang terjadi di masa kanak-kanak, disadari
ataupun tidak, dikehendaki maupun tidak, akan membekas dalam diri seseorang.
Sebagai
manusia biasa kita pasti pernah merasa marah akan sesuatu. Pernahkah Anda
menyadari, bahwa bagaimana Anda bereaksi terhadap sesuatu mencerminkan apa yang
pernah Anda alami di masa lalu? Cara Anda mendidik anak-anak Anda, sama seperti
cara orang tua Anda mendidik Anda, walaupun sebenarnya Anda tidak menyukainya.
Anda memarahi dan mengomeli anak-anak seperti Anda pernah diomeli sewaktu
kecil. Bahkan, bukan tidak mungkin bila Anda sampai melakukan kekerasan fisik
pada anak, karena sewaktu kecil Anda juga diperlakukan seperti itu.
Bukan
masalah mudah untuk mengubah sesuatu yang sudah tertanam selama bertahun-tahun.
Memerlukan pendampingan, dukungan dari semua orang di sekitarnya dan kemauan
yang luar biasa besar. Mengganti kebiasaan memukul, memaki, berteriak,
mengancam, menghukum, benar-benar tidak mudah. Mengubah perilaku anak yang
sudah terlanjur terkekang oleh kekerasan, atau memendam kesumat akibat bully, memerlukan jiwa dan lingkungan
yang benar-benar sehat.
Maka dari
itu, kalau sekarang Anda masih belum punya anak, siapkan dari sekarang metode
terbaik untuk berkomunikasi dan mendidik anak. Kalau anak Anda masih kecil,
selalu ingatkan diri Anda sendiri bahwa anak Anda harus mendapatkan yang
terbaik yang dapat Anda berikan. Bila anak Anda sudah beranjak besar dan Anda
sudah terlanjur sering memarahinya, jangan segan untuk meminta maaf. Datangi dia,
usap kepalanya, peluklah dengan penuh penyesalan. Biarkan dia mendengar Anda
berjanji bahwa Anda akan berubah. Anak akan selalu memaafkan. Tapi luka yang
sudah terlanjur tertera tak akan bisa terhapus lagi. Berusaha saja agar tak
menorehkan luka yang baru, atau memperdalam luka yang telah ada.
Kalau Anda
sudah mengetahui bahwa apa yang Anda lakukan salah, tetapi Anda tidak dapat
mengubahnya, itu artinya Anda yang butuh bantuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar