Kamis, 13 April 2017

The Unforgettable



Pernah nonton Criminal Minds? Serial kriminal yang tayang perdana tahun 2005 dan masih diperpanjang sampai musim ke-13 tahun 2017 ini salah satu menu tontonan favorit saya. Sejak berkenalan dengan Lima Sekawan, Trio Detektif dan Pasukan Mau Tahu hampir 30 tahun yang lalu (tua ya, saya?), saya nggak doyan lagi dengan genre film atau buku selain kriminal (dan fantasi). Betewe, serial ini menyorot sisi lain FBI, yaitu divisi Behavioral Analysis Unit (BAU) yang menitikberatkan pada pengenalan profil (profiling) dari pelaku kejahatan, bukan berfokus pada kejahatan itu sendiri.

Salah satu spin-off nya, yang Suspect Behavior, ini yang agak menarik perhatian (walaupun rating-nya jeblok). Episode-episodenya menceritakan tentang upaya dari tim jagoan ini menguak misteri dari berbagai pembunuhan berantai, menemukan pelaku dengan cara mengumpulkan data dan menyusun profil dari si penjahat. Dan seringkali, ternyata yang melatar belakangi dilakukannya tindak kriminal oleh si pelaku, adalah adanya trauma masa kecil. Bully oleh teman-teman sekolah, orang tua yang abusive atau memang pernah melihat atau menjadi korban tindak kriminal sewaktu kecil.

Intinya apa? Intinya adalah, segala sesuatu yang terjadi di masa kanak-kanak, disadari ataupun tidak, dikehendaki maupun tidak, akan membekas dalam diri seseorang.

Sebagai manusia biasa kita pasti pernah merasa marah akan sesuatu. Pernahkah Anda menyadari, bahwa bagaimana Anda bereaksi terhadap sesuatu mencerminkan apa yang pernah Anda alami di masa lalu? Cara Anda mendidik anak-anak Anda, sama seperti cara orang tua Anda mendidik Anda, walaupun sebenarnya Anda tidak menyukainya. Anda memarahi dan mengomeli anak-anak seperti Anda pernah diomeli sewaktu kecil. Bahkan, bukan tidak mungkin bila Anda sampai melakukan kekerasan fisik pada anak, karena sewaktu kecil Anda juga diperlakukan seperti itu.
Bukan masalah mudah untuk mengubah sesuatu yang sudah tertanam selama bertahun-tahun. Memerlukan pendampingan, dukungan dari semua orang di sekitarnya dan kemauan yang luar biasa besar. Mengganti kebiasaan memukul, memaki, berteriak, mengancam, menghukum, benar-benar tidak mudah. Mengubah perilaku anak yang sudah terlanjur terkekang oleh kekerasan, atau memendam kesumat akibat bully, memerlukan jiwa dan lingkungan yang benar-benar sehat.

Maka dari itu, kalau sekarang Anda masih belum punya anak, siapkan dari sekarang metode terbaik untuk berkomunikasi dan mendidik anak. Kalau anak Anda masih kecil, selalu ingatkan diri Anda sendiri bahwa anak Anda harus mendapatkan yang terbaik yang dapat Anda berikan. Bila anak Anda sudah beranjak besar dan Anda sudah terlanjur sering memarahinya, jangan segan untuk meminta maaf. Datangi dia, usap kepalanya, peluklah dengan penuh penyesalan. Biarkan dia mendengar Anda berjanji bahwa Anda akan berubah. Anak akan selalu memaafkan. Tapi luka yang sudah terlanjur tertera tak akan bisa terhapus lagi. Berusaha saja agar tak menorehkan luka yang baru, atau memperdalam luka yang telah ada.

Kalau Anda sudah mengetahui bahwa apa yang Anda lakukan salah, tetapi Anda tidak dapat mengubahnya, itu artinya Anda yang butuh bantuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar