Jumat, 31 Maret 2017

Lupus : Deteksi Dini, Terapi Dini, Bisa Terkendali




Lupus tak dapat disembuhkan, itu fakta. Tetapi apakah dengan menderita Lupus maka mimpi Anda harus pupus? Tentu tidak!

Lupus adalah penyakit autoimun, yaitu gangguan sistem kekebalan tubuh yang sangat berlebihan dan menyerang organ-organ tubuh penderita sendiri. Akibatnya, akan terjadi semacam ‘perang saudara’ dalam tubuh penderita, akibat sel-sel kekebalan yang seharusnya menghancurkan ‘musuh’ justru menggerogoti sel-sel saudara sendiri. Itu terjadi karena fungsi untuk mengenali dan membedakan antara sel asing dan sel saudara sendiri tidak terbentuk dengan baik.
Gejala dari lupus amat sangat tidak spesifik. Bisa menyerupai gejala dari penyakit lain. Lantas, bagaimana bisa mengenali secara dini bila gejalanya saja susah dikenali? Ada satu metode sederhana untuk deteksi dini Lupus, yaitu SALURI (Periksa Lupus Sendiri).
  1. Demam lebih dari 38’C dengan sebab yang tidak jelas.
  2. Rasa lelah dan lemah berlebihan.
  3. Sensitif terhadap sinar matahari.
  4. Rambut rontok.
  5. Ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah yang sayapnya melintang dari pipi ke pipi.
  6. Ruam kemerahan di kulit.
  7. Sariawan yang tidak sembuh-sembuh terutama di atap rongga mulut.
  8. Nyeri dan bengkak pada persendian terutama di lengan dan tungkai, menyerang lebih dari dua sendi dalam jangka waktu lama.
  9. Ujung jari-jari tangan dan kaki menjadi pucat hingga kebiruan saat udara dingin.
  10. Nyeri dada terutama saat berbaring dan menarik napas.
  11. Kejang atau kelainan saraf lainnya.
Bila Anda menemukan setidaknya 4 gejala di atas, maka Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut ke dokter pemerhati Lupus terdekat. Sangat penting untuk mengenali gejala Lupus sedini mungkin, agar dokter dapat menegakkan diagnosis dengan cepat pula. Diagnosis yang cepat dan tepat, maka terapi yang diberikan akan optimal. Terapi optimal yang diberikan sedini mungkin, maka peluang untuk ‘menjinakkan’ lupus tentu akan lebih besar.
Ingat! Lupus tidak menular dan tidak diturunkan. Lupus memang belum dapat disembuhkan, tetapi sangat bisa dikendalikan. Bila telah terkendali, maka penderita Lupus tak perlu khawatir akan kehilangan cita-cita atau masa depan lagi. Anda dapat tetap berprestasi dan berkarier seperti orang sehat lainnya.


SEMANGAT

Setelah Implan Koklea, Selanjutnya Apa?



Bagi orang tua yang dikaruniai putra/putri dengan gangguan dengar, salah satu harapan terbesar adalah memberikan implan koklea bagi Ananda tercinta. Implan koklea adalah penanaman alat bantu dengar buatan, yang diletakkan didalam rumah siput di telinga bagian dalam. Fungsinya adalah menggantikan sel-sel rambut yang rusak, yang berfungsi menangkap gelombang suara, mengubahnya menjadi sinyal-sinyal elektrik, dan meneruskannya melalui saraf pendengaran ke otak. Tetapi, apakah dengan implan koklea saja maka semuanya pasti beres? Apakah implan koklea adalah tujuan akhir perjuangan Ayah Bunda?

Berikut ini adalah hal-hal yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan pasca pemasangan implan koklea, bersama dengan buah hati Anda:

1. Perawatan alat

Implan koklea terdiri dari beberapa bagian kecil. Biasanya terdiri dari prosesor, baterai, penutup mikrofon, kabel, koil dan magnet. Tiap-tiap bagian memerlukan perawatan agar tetap dapat berfungsi dengan baik. Pengeringan tiap malam, pengisian daya dari baterai, dan pembersihan koil harus dilakukan dengan cermat dan rutin.

2. Penggantian suku cadang

Prosesor dapat bertahan hingga puluhan tahun. Tetapi, suku cadang lainnya, harus diganti secara berkala. Misalnya penutup mikrofon, koil, kabel yang menghubungkan prosesor dan koil, magnet, dan baterai, semua memerlukan penggantian berkala. Dan harga dari masing-masing suku cadang tersebut sama sekali tidak murah. Selain penggantian suku cadang, penerima implan koklea juga harus secara berkala melakukan mapping atau programming. Untuk penerima implan yang berdomisili jauh dari penyedia layanan, hal ini cukup meyita waktu, tenaga dan dana.

3. Bila implan mengalami gangguan

Implan terdiri dari 2 bagian, yang ditanam didalam telinga, dan yang berada di luar tubuh. Untuk bagian yang tertanam dalam telinga, apabila terjadi gangguan yang memerlukan intervensi, tentunya memerlukan tindakan yang lebih invasif, yaitu pembedahan.

4. Upgrade

Teknologi implan koklea mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Setiap tahun, hampir selalu ada inovasi baru tercipta agar penerima implan dapat mendengar dengan lebih baik dari sebelumnya. Bagi orang tua yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi Ananda, upgrade adalah salah satunya. Tetapi, tentunya hal ini juga tidaklah murah.

5. Terapi

Ini mungkin adalah hal paling penting dari perjuangan untuk mendengar. Setelah implan, Ananda harus dikenalkan dengan suara, mengajari cara berespon, dan akhirnya cara berbicara. Bukan perjuangan yang mudah dan kilat. Tetapi merupakan gabungan kegigihan, kesabaran dan konsistensi. Terapi audiovisual yang dianjurkan adalah sesering mungkin. 2-3 kali dalam seminggu apabila memungkinkan. Disertai peran orang tua dan keluarga di rumah tentu saja, karena Ananda lebih banyak berada di rumah bersama keluarga dibandingkan dengan waktu terapi yang singkat.


***

Deteksi Dini Gangguan Mendengar pada Anak


Deteksi dini gangguan mendengar pada anak sudah dapat dilakukan sejak usia 0-3 tahun. Usia ini adalah periode emas, dimana apabila anak dengan gangguan pendengaran diberikan intervensi pada usia ini, maka ia dapat mengejar ketinggalannya dengan cepat. Ibu yang selama kehamilannya mengalami infeksi TORCHS, bayi yang menderita hiperbilirubinemia berat, dan bayi yang mengalami trauma dalam proses persalinan (misalnya melahirkan dengan forcep), dianjurkan menjalani pemeriksaan pendengaran.
Bayi lahir sudah dapat memberikan reaksi terhadap bunyi yang keras seperti terkejut, kedipan mata, berhenti menyusui, terbangun dari tidur ataupun menangis. Tetapi saat itu bayi belum dapat menentukan dari mana asal bunyi tersebut.
Dalam perjalanan hidupnya bayi akan mendapat input suara yang berada dilingkungan sekitarnya sehari-hari terus menerus seperti :
  1. Tepukan tangan
  2. Sendok yang dipukulkan pada gelas / piring
  3. Deringan telpon
  4. Bel pintu
  5. Alat bermain yang sederhana
  6. Suara percakapan anggota keluarga
Sehingga dikemudian hari bayi/anak dapat mengenali suara yang pernah didengarnya
Gangguan pendengaran pada bayi / anak dapat dikenali dengan :
  • Bayi tidak terkejut ketika ada suara keras
  • Saat tidur bayi tidak terganggu oleh suara keras/ribut
  • Usia 6 bulan belum mengoceh
  • Anak dipanggil belum menoleh
  • Belum dapat berbicara pada usia yang pada umumnya anak seharusnya sudah dapat bicara
  • Anak hanya menggunakan salah satu telinganya untuk mendengar
  • Jika berbicara dengan anak tersebut harus menggunakan suara agak keras/keras
  • Adanya perbedaan perkembangan komunikasi bila dibanding teman sebayanya
Bayi yang dicurigai tidak merespon dengan suara-suara pada usia 1-3 bulan, sudah dapat dipastikan mengalami gangguan pendengaran, maka sebaiknya Anda berkonsultasi pada  dokter THT-KL.
Pemeriksaan fungsi pendengaran secara lengkap terdiri dari beberapa tahapan. Awalnya ahli THT-KL akan memastikan bahwa anak tidak sedang batuk pilek dan liang telinga harus bersih dan anatominya normal.
Pemeriksaan tersebut terdiri dari :
  • Tympanometri
  • BOA (Behavioral Observation Audiometri)
  • Play Audiometri
  • OAE (Oto-Acoustic Emition)
  • ABR (Auditory Brainstem Response)
  • ASSR (Auditory Steady State Response)


***