Dari dulu... Aku selalu suka sekolah.
Aku selalu suka membaca. Walaupun kapasitas memoriku pas-pasan, dan aku bukan termasuk murid cerdas yang cepat menangkap pelajaran yang kuterima, tapi aku rasa aku lumayan rajin belajar. Aku bersyukur aku adalah seorang pecinta buku. Aku lebih memilih menghabiskan ratusan ribu untuk belanja buku daripada untuk fashion atau yang lain.
Aku juga pernah bercita-cita untuk sekolah seumur hidupku. Kurasa sekolah itu enak. Menuntut ilmu tiada henti. Diselingi dengan ujian-ujian dan tes.. Harap-harap cemas menunggu hasilnya.. Dan kepuasan tersendiri kala hasil yang keluar memuaskan. Artinya kita bisa memacu diri dan sanggup bersaing dengan yang lain untuk menaklukkan soal-soal yang diberikan para guru.
Tapi setelah berkeluarga, dengan anak-anak di sekeliling, yang menuntut untuk diperhatikan juga.. Sekolah menjadi tak seenak dulu. Jadi jauuhhh lebih berattt...
Apalagi dengan bertambahnya usia, kemampuan otak dan memori yang berkurang, konsentrasi yang terpecah belah.. Sungguh, sekolah adalah tantangan yang luar biasa.
Membaca buku jadi tak senikmat dulu, karena selalu dikalahkan oleh si kecil yang datang dan menyita perhatian. Mengerjakan tugas pun jadi berlipat kali terasa berat dan lebih lama. Apalagi untuk berkumpul dan hang-out bersama teman-teman.
Prioritas kini sudah berubah. Ambisi pribadi untuk sekolah setinggi langit, berburu beasiswa keliling dunia, sudah dikalahakan oleh hasrat keibuan untuk selalu bersama keluarga, terutama anak-anak.
Tapi sekarang sudah kepalang basah..
Sudah sejauh ini melangkah. Sudah susah payah berjuang untuk sekolah, sudah berkorban jiwa, raga, waktu, tenaga, biaya, semuanya, aku pastinya tak boleh menyerah. Bukan cuma aku yang sudah berkorban. Tapi juga semua orang di sekelilingku. Anak-anakku yang selalu kutinggalkan, Ibu dan saudaraku yang berlelah-lelah kerepotan menjaga anak-anakku, suamiku yang terpaksa mengurus dirinya sendiri (lagi), semuanya sudah berkorban bersamaku. Untuk mereka lah aku tak akan menyerah. Aku harus terus berjuang dan bertahan walaupun harus berpeluh darah.
Awal-awal sekolah sungguh jadi masa yang melelahkan. Belum sempat belajar apapun, tapi dipaksa untuk tahu semua hal. Kalau ada yang tidak tahu, dicaci, dimaki dan pasti jadi bulan-bulanan. Harus bisa menyeimbangkan antara : Bekerja (merawat pasien) - belajar - jaga - ekstrakurikuler - tugas tambahan - tugas hukuman - keluarga.. Entah, bagaimana caranya.
Mereka bilang : belajar sambil jalan.. Kalau jalan di tempat sih mungkin bisa sambil belajar. Tapi kalau jalan cepat atau bahkan lari seperti ini? Bagaimana bisa belajar? Apalagi kapasitas otak pas-pasan begini. Terus terang aku minder di tengah teman-teman yang lain. Aku yang paling tidak tahu apa-apa. Aku sempat ragu apa aku bisa menyejajarkan langkah dengan yang lain..
Tapi hidup harus optimis. Tak boleh menyerah sebelum mencoba. Aku harus bisa!
Anak-anakku, semoga cita-cita kita lekas tercapai, sehingga pengorbanan kita tak sia-sia. Kalianlah penyemangatku..
I love you...
Rabu, 19 September 2012
Minggu, 09 September 2012
Struggling to Survive
Dulu, aku pikir perjalanan hidupku landai-landai saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada gelombang tinggi, hanya riak-riak halus yang tak berarti. Allah swt tidak pernah mengirimkan ujian yang berat untukku. Sampai kadang dalam hati aku bertanya, apa menurut Allah swt aku tak sanggup kalau ditimpakan ujian yang berat? Ataukah aku belum layak "naik kelas" sehingga aku belum diuji?
Tapi semua mulai berubah beberapa tahun yang lalu. Saat Allah menimpakan ujian yang luar biasa, dan ternyata aku tidak lulus. Sejak saat itu, rasanya ujian demi ujian silih berganti dalam berbagai bentuk. Dan semua itu membukakan mataku, bahwa hidupku tidak landai lagi. Aku harus benar-benar berusaha sekuat tenaga kalau ingin sukses dunia akhirat. Karena aku bukanlah siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Kalau ingin menjadi seseorang yang berarti, aku harus berjuang.
Dulu, orang tuaku sangat ketat mendidik dan memproteksi aku dan yang lain. Akibatnya aku tak pernah ikut ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginanku, tak pernah ikut organisasi, tak pernah kumpul-kumpul bareng teman-teman, dll. Tapi sisi baiknya, aku terlindungi dari pergaulan yang salah, dari pengaruh-pengaruh buruk yang seringkali menjerumuskan remaja-remaja labil pada waktu itu. Tapi akhirnya aku "nakal". Aku melanggar salah satu larangan, curi-curi, dan akhirnya aku menyesalinya seumur hidupku.
Sebenarnya masih banyak hal lain yang kusesali dalam hidupku, dimana seandainya aku diijinkan mengulang waktu, aku akan mengubahnya dan tidak melakukan hal yang sama. Tapi tentu saja itu tak mungkin. Semua sudah terjadi. Yang bisa kulakukan hanya memohon ampunan, dan berjuang semoga ke depan lebih baik lagi. Maaf, mungkin tulisanku gak jelas. Aku tidak bisa mengungkapkan semuanya secara eksplisit disini, karena sebagian merupakan aib pribadi.
Yang jelas, Allah sebenarnya sudah memperingatkan. Secara halus dan tersamar. Mungkin karena aku yang bebal dan insensitif, sehingga aku mengabaikannya. Dan sekarang aku harus mulai jadi lebih kuat. Berjuang untuk sekolahku, supaya sukses dan lancar, tidak tertinggal, tidak jadi locus minoris, tidak jadi bulan-bulanan. Dan berjuang untuk keluargaku, membesarkan anak-anakku yang diamanahkan padaku, supaya jadi generasi terbaik. Juga berjuang untuk suamiku, mempertahankan hubungan jarak jauh ini supaya tetap aman, walaupun badai mengguncang, ombak menerpa, godaan di kanan-kiri.
Semoga Allah swt meridhoi perjuangan kami ini...
Amiinnn...
Tapi semua mulai berubah beberapa tahun yang lalu. Saat Allah menimpakan ujian yang luar biasa, dan ternyata aku tidak lulus. Sejak saat itu, rasanya ujian demi ujian silih berganti dalam berbagai bentuk. Dan semua itu membukakan mataku, bahwa hidupku tidak landai lagi. Aku harus benar-benar berusaha sekuat tenaga kalau ingin sukses dunia akhirat. Karena aku bukanlah siapa-siapa. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Kalau ingin menjadi seseorang yang berarti, aku harus berjuang.
Dulu, orang tuaku sangat ketat mendidik dan memproteksi aku dan yang lain. Akibatnya aku tak pernah ikut ekstrakurikuler yang sesuai dengan keinginanku, tak pernah ikut organisasi, tak pernah kumpul-kumpul bareng teman-teman, dll. Tapi sisi baiknya, aku terlindungi dari pergaulan yang salah, dari pengaruh-pengaruh buruk yang seringkali menjerumuskan remaja-remaja labil pada waktu itu. Tapi akhirnya aku "nakal". Aku melanggar salah satu larangan, curi-curi, dan akhirnya aku menyesalinya seumur hidupku.
Sebenarnya masih banyak hal lain yang kusesali dalam hidupku, dimana seandainya aku diijinkan mengulang waktu, aku akan mengubahnya dan tidak melakukan hal yang sama. Tapi tentu saja itu tak mungkin. Semua sudah terjadi. Yang bisa kulakukan hanya memohon ampunan, dan berjuang semoga ke depan lebih baik lagi. Maaf, mungkin tulisanku gak jelas. Aku tidak bisa mengungkapkan semuanya secara eksplisit disini, karena sebagian merupakan aib pribadi.
Yang jelas, Allah sebenarnya sudah memperingatkan. Secara halus dan tersamar. Mungkin karena aku yang bebal dan insensitif, sehingga aku mengabaikannya. Dan sekarang aku harus mulai jadi lebih kuat. Berjuang untuk sekolahku, supaya sukses dan lancar, tidak tertinggal, tidak jadi locus minoris, tidak jadi bulan-bulanan. Dan berjuang untuk keluargaku, membesarkan anak-anakku yang diamanahkan padaku, supaya jadi generasi terbaik. Juga berjuang untuk suamiku, mempertahankan hubungan jarak jauh ini supaya tetap aman, walaupun badai mengguncang, ombak menerpa, godaan di kanan-kiri.
Semoga Allah swt meridhoi perjuangan kami ini...
Amiinnn...
Langganan:
Komentar (Atom)

