Sabtu, 03 Desember 2011

Pengalaman Kedua

Alhamdulillah, masih bisa posting...

Tanpa terasa sudah di penghujung tahun lagi nih. Another year has gone by.. I have given birth to my second child last November 10th. A baby girl..
Setelah melalui masa kehamilan yang cukup melelahkan, karena harus beberapa kali ganti nanny. Dapetnya yang "kurang bener" mulu, jadi aku harus bekerja sambil meng-handle anak pertamaku yang super aktif. Untungnya gak apel, dan Alhamdulillah juga rekan-rekan di tempat kerja yang penuh pengertian, mau sukarela menolongku "nguber-uber" si Ucok ketika dia kabur-kaburan. Thank's everyone...

Dan ternyata setiap kehamilan memang sangat personal. Seorang Ibu walaupun dengan kehamilan yang janinnya berjenis kelamin yang sama pun, setiap kehamilannya pasti ada ciri khas masing-masing.
Yang ini pun demikian. Kalau ada yang bilang, hamil anak perempuan lebih ringan dari anak laki-laki, rasanya tidak demikian buatku. Di trimester pertama, aku mengalami beberapa kali flek perdarahan walaupun syukur Alhamdulillah tidak sampai parah. Ternyata karena letak plasenta yang rendah di dekat mulut rahim. Dan Alhamdulillah lagi, seiring tumbuhnya kandungan, letak plasenta pun bergeser keatas sehingga janin bisa mengambil posisi fisiologisnya dengan baik. Selain flek-flek ringan, sakit pinggang & panggul, mual-mual yang tidak kurasakan saat kehamilan pertama dulu, ternyata persalinannya pun berbeda. Karena persalinan yang dulu maju 2 minggu, kukira yang sekarang pun akan demikian, makanya aku ambil cuti lebih awal (selain karena gak punya nanny, biar gak capek kerja sambil ngurus anak).  Eh, ternyata, tunggu punya tunggu, sampe hampir sebulan cuti berlalu, si jabang bayi tak kunjung nongol. Padahal menurutku, kehamilan yang sekarang lebih melelahkan dibanding yang pertama. Tapi ternyata itu tak menjamin akan mempercepat datangnya persalinan. Dan akhirnya, hanya sehari sebelum due date yang diperkirakan semula, datanglah mules yang ditunggu-tunggu itu. Bahkan sepertinya, rasa mulesnya pun beda. Lebih intens dan lebih terasa. Kalau dulu, aku masih bisa curi-curi tidur diantara tiap mules yang datang, tapi kali ini tidak. Yang hampir sama hanya waktu datangnya mules sampai waktu persalinan. Yang pertama, his mulai terasa saat maghrib, dan bayi lahir pukul 10.10 esok paginya. Kalau sekarang, his terasa sekitar jam 8 malam, dan bayi lahir jam 8 paginya. Walaupun sebenarnya mules sudah mulai terasa sekitar jam 11 siang, tapi hanya selintas-selintas dan belum sering.
Akhirnya, pagi jam 6, aku datang ke rumah sakit sudah pembukaan 6-7. His makin sering dan makin tak tertahankan, akhirnya ketuban pecah jam 8 kurang sedikit, langsung dipimpin mengejan oleh bidan-bidan rekan kerjaku, dan lahirlah si bayi yang ditunggu-tunggu. Plasenta lahir hanya 4 menit kemudian, berbeda dengan yang pertama, yang sampai 30 menit baru lepas. Jahitan Alhamdulillah lebih sedikit dari yang pertama, walaupun bayinya lebih besar (3700 gr; 50 cm) dari yang pertama (3000 gr; 49 cm). Tenaga yang harus dikeluarkan pun jelas lebih ekstra, karena harus mendorong bayi yang lebih besar. Dan yang masih jelas kuingat, adalah mules setelah melahirkan, saat uterus berinvolusi. Jauh lebih hebat dari yang pertama dulu. Rasanya persis seperti his. Apalagi saat menyusui, rasanya sangat menyiksa. Nyeri di puting, payudara masih ditambah mules yang "mak nyus", dan itu terasa sampai 3-4 hari post partum. Padahal dulu sama sekali gak ada yang seperti ini.
Oiya, alhamdulillahnya lagi, walau setelah melahirkan aku harus langsung mengurus 2 anakku sendirian, karena  Ibu tak bisa datang, tapi aku berhasil menyusui anak keduaku, tanpa bantuan sufor. Padahal makanku keteteran karena nanny yang baru 2 hari kerja di rumah masih belum tahu apa-apa dan agak malas.

Setelah beberapa hari berjalan, terasa repotnya membagi waktu untuk 2 anak yang masih sama-sama membutuhkan perhatian. Si kakak, yang biasanya selalu berdua denganku, yang selalu kuajak kemana-mana selama aku cuti, yang selalu full menjadi pusat perhatian, cinta dan curahan waktu yang aku dan Bapaknya miliki, tiba-tiba harus berbagi dengan anggota baru yang disebutnya "adik bayi". Aku sendiri pun merasa bersalah karena aku selalu merasa belum cukup mencintainya, tetapi terpaksa harus membagi cinta dengan si adik.
But my sun, you should know that I (we) will always love you as much as before. No matter how many siblings you will have, but our love for you will always be 100%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar