Melanjutkan perjuanganku menggapai dunia PPDS,
Sambil hamil, tak menyurutkan semangatku untuk terus berusaha. Setelah patah hati ditolak oleh Interne Unpad, aku memutuskan untuk kembali ke almamater. Bulan Juli, saat dibukanya pendaftaran gelombang kedua, aku datang ke Malang. Sejak berangkat, sudah mulai perjuangan. Waktu itu aku hamil sekitar 5 bulan, jadi aku minta suamiku untuk mengantarku ke stasiun yang lumayan jauh dari rumah. Kutunggu-tunggu, suamiku baru datang di waktu yang cukup mepet, jadi kami langsung berangkat. Baru keluar dari pos I, sudah disambut dengan gerimis dan macet. Tak mungkin terkejar keretaku tepat waktu. Akhirnya aku terpaksa berangkat sendiri pakai motor. Tapi walaupun sudah kuusahkan memacu sekencang yang aku bisa di jalanan yang macet dan licin karena hujan, tetap saja tak terkejar Malabar Ekspress sore itu. Aku terlambat 10 menit. Sempat berfikir untuk naik pesawat Jakarta-Surabaya penerbangan terakhir hari itu, tapi takut ketinggalan lagi, akhirnya kuputuskan naik Mutiara Selatan saja. Entah nanti turun di Surabaya atau dimana, dipikirkan nanti saja. Dan ternyata, tiket duduknya pun habis. Aku dapat tiket tanpa kursi, alhasil aku pun ngemper di sekat antar gerbong yang masih kosong, dengan hasil sakit pinggang dan nyeri di tulang dudukku keesokan harinya. Setelah memutuskan turun di stasiun Jombang, perjalanan berlanjut dengan bis kecil ke Malang. Sampai di tujuan sekitar jam 10 kurang, aku langsung cari kamar mandi untuk ganti baju dan cuci muka sekedarnya. Setelah menghubungi beberapa senior dan bagian sekertariat, aku meluncur mencari para pejabat seperti yang diarahkan. Pertama, kucari Kepala Bagian. Ditunggu beberapa waktu, beliau tak kunjung datang. Begitu datang beberapa jam kemudian ternyata langsung ada acara bersama mahasiswa. Akhirnya kutemui KPS dan sekertaris KPS, dan hasilnya beliau menyarankan aku untuk mendaftar di periode berikutnya saja setelah melahirkan. Ya sudahlah, pulanglah aku ke Bandung. Paling tidak perjuanganku yang ini ada hasilnya. Mudah-mudahan periode berikutnya lancar tanpa kendala.
Setelah melahirkan, iseng-iseng aku mendaftar PPDS di Unpad jurusan yang berbeda. Hari ke-9 post partum, aku sudah bermotor sendiri dan menempuh tes pertamaku. MMPI, TPA dan TKBI. Ternyata seperti itu ya yang namanya TPA. Aku membeli buku tentang TPA, tapi ternyata berbeda. Seharusnya yang dulu aku ikut saja tes hari pertamanya, toh aku sudah membayar. Supaya sekarang tidak kaget dan hasilnya banyak yang kukosongkan saja jawabannya. Terutama soal-soal aritmatika. Hiks..
Hari selasa, hari ke-12 post partum, aku kembali ke RSHS untuk briefing dan mengetahui bahwa tes selanjutnya (akademik dan wawancara) akan dilaksanakan pada hari Kamis. Hari yang ditentukan pun tiba. Kami ber-11 melaksanakan tes akademik, dasar-dasar keilmuan yang berkaitan. Aku sama sekali tidak belajar. Sebenarnya soal-soalnya tidak sulit. Benar-benar hanya dasar-dasarnya saja. Nilai yang dituntut pun minimal hanya 70. Tapi karena aku tidak belajar, jadi banyak yang sudah lupa, akhirnya aku pun gagal. Dari 11 orang, 4 orang harus pulang. Sepertinya 7 orang lainnya akan diterima semua.
Ada rasa malu, kecewa, menyesal luar biasa. Seharusnya aku bisa lebih memanfaatkan kesempatan ini dengan lebih baik. Mumpung peserta hanya sedikit. Seharusnya aku mempersiapkan diri dengan lebih baik lagi. Tapi ya sudahlah, tak ada gunanya menyesal. Kumanfaatkan saja waktuku untuk mengasuh anak-anakku dengan sebaik-baiknya sebelum aku mendaftar lagi periode depan. Keep fighting !!!
Sabtu, 03 Desember 2011
Pengalaman Kedua
Alhamdulillah, masih bisa posting...
Tanpa terasa sudah di penghujung tahun lagi nih. Another year has gone by.. I have given birth to my second child last November 10th. A baby girl..
Setelah melalui masa kehamilan yang cukup melelahkan, karena harus beberapa kali ganti nanny. Dapetnya yang "kurang bener" mulu, jadi aku harus bekerja sambil meng-handle anak pertamaku yang super aktif. Untungnya gak apel, dan Alhamdulillah juga rekan-rekan di tempat kerja yang penuh pengertian, mau sukarela menolongku "nguber-uber" si Ucok ketika dia kabur-kaburan. Thank's everyone...
Dan ternyata setiap kehamilan memang sangat personal. Seorang Ibu walaupun dengan kehamilan yang janinnya berjenis kelamin yang sama pun, setiap kehamilannya pasti ada ciri khas masing-masing.
Yang ini pun demikian. Kalau ada yang bilang, hamil anak perempuan lebih ringan dari anak laki-laki, rasanya tidak demikian buatku. Di trimester pertama, aku mengalami beberapa kali flek perdarahan walaupun syukur Alhamdulillah tidak sampai parah. Ternyata karena letak plasenta yang rendah di dekat mulut rahim. Dan Alhamdulillah lagi, seiring tumbuhnya kandungan, letak plasenta pun bergeser keatas sehingga janin bisa mengambil posisi fisiologisnya dengan baik. Selain flek-flek ringan, sakit pinggang & panggul, mual-mual yang tidak kurasakan saat kehamilan pertama dulu, ternyata persalinannya pun berbeda. Karena persalinan yang dulu maju 2 minggu, kukira yang sekarang pun akan demikian, makanya aku ambil cuti lebih awal (selain karena gak punya nanny, biar gak capek kerja sambil ngurus anak). Eh, ternyata, tunggu punya tunggu, sampe hampir sebulan cuti berlalu, si jabang bayi tak kunjung nongol. Padahal menurutku, kehamilan yang sekarang lebih melelahkan dibanding yang pertama. Tapi ternyata itu tak menjamin akan mempercepat datangnya persalinan. Dan akhirnya, hanya sehari sebelum due date yang diperkirakan semula, datanglah mules yang ditunggu-tunggu itu. Bahkan sepertinya, rasa mulesnya pun beda. Lebih intens dan lebih terasa. Kalau dulu, aku masih bisa curi-curi tidur diantara tiap mules yang datang, tapi kali ini tidak. Yang hampir sama hanya waktu datangnya mules sampai waktu persalinan. Yang pertama, his mulai terasa saat maghrib, dan bayi lahir pukul 10.10 esok paginya. Kalau sekarang, his terasa sekitar jam 8 malam, dan bayi lahir jam 8 paginya. Walaupun sebenarnya mules sudah mulai terasa sekitar jam 11 siang, tapi hanya selintas-selintas dan belum sering.
Akhirnya, pagi jam 6, aku datang ke rumah sakit sudah pembukaan 6-7. His makin sering dan makin tak tertahankan, akhirnya ketuban pecah jam 8 kurang sedikit, langsung dipimpin mengejan oleh bidan-bidan rekan kerjaku, dan lahirlah si bayi yang ditunggu-tunggu. Plasenta lahir hanya 4 menit kemudian, berbeda dengan yang pertama, yang sampai 30 menit baru lepas. Jahitan Alhamdulillah lebih sedikit dari yang pertama, walaupun bayinya lebih besar (3700 gr; 50 cm) dari yang pertama (3000 gr; 49 cm). Tenaga yang harus dikeluarkan pun jelas lebih ekstra, karena harus mendorong bayi yang lebih besar. Dan yang masih jelas kuingat, adalah mules setelah melahirkan, saat uterus berinvolusi. Jauh lebih hebat dari yang pertama dulu. Rasanya persis seperti his. Apalagi saat menyusui, rasanya sangat menyiksa. Nyeri di puting, payudara masih ditambah mules yang "mak nyus", dan itu terasa sampai 3-4 hari post partum. Padahal dulu sama sekali gak ada yang seperti ini.
Oiya, alhamdulillahnya lagi, walau setelah melahirkan aku harus langsung mengurus 2 anakku sendirian, karena Ibu tak bisa datang, tapi aku berhasil menyusui anak keduaku, tanpa bantuan sufor. Padahal makanku keteteran karena nanny yang baru 2 hari kerja di rumah masih belum tahu apa-apa dan agak malas.
Setelah beberapa hari berjalan, terasa repotnya membagi waktu untuk 2 anak yang masih sama-sama membutuhkan perhatian. Si kakak, yang biasanya selalu berdua denganku, yang selalu kuajak kemana-mana selama aku cuti, yang selalu full menjadi pusat perhatian, cinta dan curahan waktu yang aku dan Bapaknya miliki, tiba-tiba harus berbagi dengan anggota baru yang disebutnya "adik bayi". Aku sendiri pun merasa bersalah karena aku selalu merasa belum cukup mencintainya, tetapi terpaksa harus membagi cinta dengan si adik.
But my sun, you should know that I (we) will always love you as much as before. No matter how many siblings you will have, but our love for you will always be 100%.
Tanpa terasa sudah di penghujung tahun lagi nih. Another year has gone by.. I have given birth to my second child last November 10th. A baby girl..
Setelah melalui masa kehamilan yang cukup melelahkan, karena harus beberapa kali ganti nanny. Dapetnya yang "kurang bener" mulu, jadi aku harus bekerja sambil meng-handle anak pertamaku yang super aktif. Untungnya gak apel, dan Alhamdulillah juga rekan-rekan di tempat kerja yang penuh pengertian, mau sukarela menolongku "nguber-uber" si Ucok ketika dia kabur-kaburan. Thank's everyone...
Dan ternyata setiap kehamilan memang sangat personal. Seorang Ibu walaupun dengan kehamilan yang janinnya berjenis kelamin yang sama pun, setiap kehamilannya pasti ada ciri khas masing-masing.
Yang ini pun demikian. Kalau ada yang bilang, hamil anak perempuan lebih ringan dari anak laki-laki, rasanya tidak demikian buatku. Di trimester pertama, aku mengalami beberapa kali flek perdarahan walaupun syukur Alhamdulillah tidak sampai parah. Ternyata karena letak plasenta yang rendah di dekat mulut rahim. Dan Alhamdulillah lagi, seiring tumbuhnya kandungan, letak plasenta pun bergeser keatas sehingga janin bisa mengambil posisi fisiologisnya dengan baik. Selain flek-flek ringan, sakit pinggang & panggul, mual-mual yang tidak kurasakan saat kehamilan pertama dulu, ternyata persalinannya pun berbeda. Karena persalinan yang dulu maju 2 minggu, kukira yang sekarang pun akan demikian, makanya aku ambil cuti lebih awal (selain karena gak punya nanny, biar gak capek kerja sambil ngurus anak). Eh, ternyata, tunggu punya tunggu, sampe hampir sebulan cuti berlalu, si jabang bayi tak kunjung nongol. Padahal menurutku, kehamilan yang sekarang lebih melelahkan dibanding yang pertama. Tapi ternyata itu tak menjamin akan mempercepat datangnya persalinan. Dan akhirnya, hanya sehari sebelum due date yang diperkirakan semula, datanglah mules yang ditunggu-tunggu itu. Bahkan sepertinya, rasa mulesnya pun beda. Lebih intens dan lebih terasa. Kalau dulu, aku masih bisa curi-curi tidur diantara tiap mules yang datang, tapi kali ini tidak. Yang hampir sama hanya waktu datangnya mules sampai waktu persalinan. Yang pertama, his mulai terasa saat maghrib, dan bayi lahir pukul 10.10 esok paginya. Kalau sekarang, his terasa sekitar jam 8 malam, dan bayi lahir jam 8 paginya. Walaupun sebenarnya mules sudah mulai terasa sekitar jam 11 siang, tapi hanya selintas-selintas dan belum sering.
Akhirnya, pagi jam 6, aku datang ke rumah sakit sudah pembukaan 6-7. His makin sering dan makin tak tertahankan, akhirnya ketuban pecah jam 8 kurang sedikit, langsung dipimpin mengejan oleh bidan-bidan rekan kerjaku, dan lahirlah si bayi yang ditunggu-tunggu. Plasenta lahir hanya 4 menit kemudian, berbeda dengan yang pertama, yang sampai 30 menit baru lepas. Jahitan Alhamdulillah lebih sedikit dari yang pertama, walaupun bayinya lebih besar (3700 gr; 50 cm) dari yang pertama (3000 gr; 49 cm). Tenaga yang harus dikeluarkan pun jelas lebih ekstra, karena harus mendorong bayi yang lebih besar. Dan yang masih jelas kuingat, adalah mules setelah melahirkan, saat uterus berinvolusi. Jauh lebih hebat dari yang pertama dulu. Rasanya persis seperti his. Apalagi saat menyusui, rasanya sangat menyiksa. Nyeri di puting, payudara masih ditambah mules yang "mak nyus", dan itu terasa sampai 3-4 hari post partum. Padahal dulu sama sekali gak ada yang seperti ini.
Oiya, alhamdulillahnya lagi, walau setelah melahirkan aku harus langsung mengurus 2 anakku sendirian, karena Ibu tak bisa datang, tapi aku berhasil menyusui anak keduaku, tanpa bantuan sufor. Padahal makanku keteteran karena nanny yang baru 2 hari kerja di rumah masih belum tahu apa-apa dan agak malas.
Setelah beberapa hari berjalan, terasa repotnya membagi waktu untuk 2 anak yang masih sama-sama membutuhkan perhatian. Si kakak, yang biasanya selalu berdua denganku, yang selalu kuajak kemana-mana selama aku cuti, yang selalu full menjadi pusat perhatian, cinta dan curahan waktu yang aku dan Bapaknya miliki, tiba-tiba harus berbagi dengan anggota baru yang disebutnya "adik bayi". Aku sendiri pun merasa bersalah karena aku selalu merasa belum cukup mencintainya, tetapi terpaksa harus membagi cinta dengan si adik.
But my sun, you should know that I (we) will always love you as much as before. No matter how many siblings you will have, but our love for you will always be 100%.
Langganan:
Komentar (Atom)