Willkommen beim Goethe-Institut
Setelah sekian lama mendamba (cieee... lebay...), hampir 10 tahun, termimpi-mimpi pengen belajar bahasa Jerman langsung dari Goethe-Institute, akhirnya, Alhamdulillah, tercapai juga.... Tapi jadi ada rasa sesal. Kok? Iya lah, nyesel, kenapa gak dari pertama datang ke Bandung? Kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu, waktu belum punya anak, masih banyak waktu, belum banyak pikiran... Tapi no problemo. Yang penting pada akhirnya kan kesampaian juga.
Sabtu kemaren, hari pertama masuk kelas. Asik, keren, persis seperti yang kubayangkan.. Bonafide...
Ada berbagai kelas yang ditawarkan. Mulai dari super intensif yang masuk tiap hari, sampe privat. Sebenernya aku pengen ambil yang superintensif, soalnya aku pengen banget cepet bisa. Tapi bagaimana mungkin... Bisa dipecat aku. Dan akupun harus berpuas diri dengan kelas ekstensifku yang cuma tiap Sabtu, dan naik level tiap 3 bulan.
Kelasku kayaknya termasuk yang gak terlalu padat. Cuma 12 orang (Fitri, Vincent, Beki, Iras, Sena, Haidar, Sania, Daniel, Dita, Alifa, Gita und Ich). Dan tentu saja aku yang paling senior (gak mau dibilang tua... ;p). 11 orang lainnya masih SMA dan kuliah. Lehrerinnya : Frau Suciati Safitri Siregar, perempuan berjilbab asli Bandung yang menikah dengan seorang Siregar, dan pernah 7 tahun tinggal di Deutschland. Dan pastinya bahasa Jermannya keren... (ya iyalah, kalo gak mana mungkin jadi Lehrerin, di Goethe-Institute pula).
Pertemuan pertama cuma perkenalan terhadap bahasa, negara dan budaya Jerman. Soal bahasa, rasanya aku lumayan lah, gak terlalu malu-maluin dibanding yang lain. Mungkin karena aku sempat kursus waktu Ko-Ass dulu, walaupun cuma beberapa kali pertemuan, dan drop out, makanya aku gak terlalu ketinggalan lah dibanding anak-anak itu, yang mungkin dapat pelajaran bahasa Jerman dari sekolahnya. Tapi ternyata, pengetahuanku tentang negara dan budaya Jerman, gak ada apa-apanya. Malu...
Dan satu lagi yang bikin agak down. Ternyata, level bahasa Jerman, bukan hanya 6 level yang dulu kukira bisa kupelajari dalam 6 x 3 bulan kelas ekstensif. Ternyata, A1, A2, B1, B2, C1 dan C2 itu, masing-masing masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa level. A1 dibagi menjadi A1.1, A1.2 dan A1.3 yang masing-masing dipelajari dalam 3 bulan kelas ekstensif. Jadi, level A1 saja, baru bisa dituntaskan dalam 3 x 3 bulan (9 bulan). Level A2 ada 2 bagian, level B1 ada 3 bagian, level B2 ada 6 bagian, level C1 ada 5 bagian dan C2 ada 5 bagian. Kalau kuhitung-hitung, semua ada 24 bagian, kalo aku bertahan di kelas ekstensif, berarti 3 x 24 bagian = 72 bulan. 6 tahun!!!!!! Hiks, mana mungkin....
Tapi tetep semangat!!! Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Insya Allah ada jalan keluar, somehow...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar