Minggu, 17 Oktober 2010

Baby's Day Out..

Untuk sementara acara belajarnya dipending dulu. Saatnya menikmati waktu libur yang langka untuk bersama buah hati tercinta. Kemana? Yang dekat-dekat saja...
Tadinya rencana mau piknik seharian. Bekal sudah dipersiapkan sejak hari sebelumnya. Belanja untuk bikin bekal yang sehat. Siapa tahu sambil jalan, my sun mau makan banyak. Sembari penghematan tentunya. Biar gak usah jajan.
Pagi-pagi, mulai mengolah a'la Chef jadi-jadian, rasanya pun asal-asalan deh... Hihihi...

Setelah semua siappp.... Perjalanan pun dimulai...
Kita pun berkuda menyeberangi kota Bandung yang selalu padat merayap itu... Hufff.... Dan akhirnya, sampailah kita diiiii.....



Ya... Tadinya punya banyak rencana. Berangkat pagi-pagi, ke Ciater Subang, berendam air panas & main air. Mungkin sedikit jalan-jalan di kebun teh. Trus, agak siangan, geser ke Tangkuban Parahu, sambil makan siang. Habis itu, sambil jalan pulang, baru mampir di Rumah Sosis. Tapi berhubung langit di atas Tangkuban Perahu sepertinya mendung berat, daripada kehujanan di jalan, mending stop di sini aja gitu....

Berhubung kita kesininya hari kerja, jadi gak terlalu rame. Pas kita dateng cuma ada segerombolan anak TK bersama guru-gurunya sedang berenang di kolam kecil. Gak seberapa lama kita disana, mereka naik untuk makan dan pulang. Akhirnya kita sendirian aja dweh, cuma sama 1 orang bapak-bapak separuh baya yang dengan semangat terus berenang non stop. Tanpa basa basi, kita pun langsung nyebur.
Anakku agak takut awalnya. Maklum, belum pernah diajak berenang. sebelumnya. Dan kayaknya dia takut ngeliat air yang buanyakkk gitu. Tapi dengan bujuk rayu plus sedikit paksaan, dia pun mau main.

Ini dia sebagian hasilnya (Kok hasil aplodnya jelek ya? Padahal fotonya bagus.)... Kapan-kapan kita piknik lagi ya... Ke tempat yang lebih keren. InsyaAllah.


Nonton freefall, sambil piknik

Yeaahhhh...


Yak, tuk, wak, tuk, wak...
Sliding
Bbrrrmmmmm....

"Lihat, kudanya senyum!!"





Ayo nak, jangan takut... Semangat!!!

Ambil ancang-ancang
Yang mandi bola siapa ya sebenernya???
Kok ada penampakan...
Bolanya kok lari sih..
Satu, dua, tiga.... Shoot!


Minggu, 10 Oktober 2010

Having fun

Belajar Jerman yukk...

Kalau di TV ada program "Belajar Indonesia", disini aku sedang belajar Jerman. Biarin, walaupun ada target lain yang harus kukejar (meng-khatam-kan 3000 halaman textbook Ilmu Penyakit Dalam dalam 21 minggu..), tapi itu kurasakan sebagai kewajiban. Dan belajar Jerman (dan bahasa asing lainnya) adalah hobiku, kesenanganku, my passion, penyegaran bagi psikisku biar gak stress. Walaupun judulnya sama-sama "belajar", tapi belajar bahasa asing sama sekali gak bikin stress dan sangat menyenangkan.  Oleh karena itu, maka, dengan demikian, thus, marilah kita mulai belajar (tentng) Jerman, dimulai dengaaannnnnn.... Goethe himself...

Johann Wolfgang von Goethe



Johann Wolfgang von Goethe lahir di Frankfurt pada 28 Agustus 1749. Ia adalah penulis dan pemikir terkemuka yang mempengaruhi kebudayaan Barat. Karya-karyanya meliputi puisi, drama, literatur, theologi, filsafat sampai ilmu pengetahuan. Karya terbesarnya yang disebut-sebut sebagai puncak dari literatur Barat, adalah drama Faust.  Karya lainnya adalah berbagai puisi, roman Wilhelm Meister's Apprenticeship dan novel The Sorrows of Young Werther.

Ayah Goethe, Johann Caspar Goethe, tinggal di sebuah rumah besar bersama keluarganya di Frankfurt. Ibu Goethe, Catharina Elisabeth Textor, adalah putri dari walikota Frankfurt, Johann Wolfgang Textor dan istrinya Anna Margaretha Lindheimer, yang merupakan keturunan dari Lucas Cranach the Elder dan Henry III, menikahi Johann Caspar yang ketika itu berusia 38 tahun dan ia sendiri berusi 17 tahun, di Frankfurt pada 20 Agustus 1748. Semua anaknya, kecuali Goethe dan saudarinya Cornelia Friederike Christiana yang dilahirkan pada1750, meninggal pada usia muda.

Johann Caspar dan guru-guru pribadi mengajar Goethe hal-hal yang umum dipelajari waktu itu, terutama bahasa (Latin, Yunani, Prancis dan Inggris). Juga pelajaran dansa, berkuda dan anggar.  Goethe sangat tidak menyukai gereja. Ia sangat tertarik pada lukisan dan segera menyukai literatur. Ia juga menyukai teater dan pertunjukan wayang (puppet).  Ia juga menikmati membaca buku sejarah dan agama.  Ia menuliskan periode ini sebagai :

" I had from childhood the singular habit of always learning by heart the beginnings of books, and the divisions of a work, first of the five books of Moses, and then of the Aeneid and Ovid's Metamorphoses. . . If an ever busy imagination, of which that tale may bear witness, led me hither and thither, if the medley of fable and history, mythology and religion, threatened to bewilder me, I readily fled to those oriental regions, plunged into the first book of Moses, and there, amid the scattered shepherd tribes, found myself at once in the greatest solitude and the greatest society."

Goethe belajar hukum di Leipzig dari 1765 sampai 1768. Ia tidak serius mempelajari peraturan hukum tetapi justru menghadiri pelajaran puisi dari Christian Furchtegott Gellert.  Di Leipzig, Goethe jatuh cinta pada Kathchen Schonkopf dan menulis puisi ceria tentangnya di Rococo.  Pada 1770, dia merilis kumpulan puisi pertamanya, Annette, secara anonim. Kekagumannya terhadap puisi kontemporer menghilang ketika ia mulai tertarik pada Lessing dan Wieland. Pada saat ini Goethe telah menulis banyak hal, tapi ia membuang hampir semua karyanya itu kecuali sebuah komedi Die Mitschuldigen.  Restoran Auerbach Keller dan legenda Faust-nya sangat berkesan bagi Goethe sehingga Auerbach Keller menjadi satu-satunya tempat yang nyata yang ada dalam drama Faust bagian I.  Karena studinya tidak mengalami kemajuan, Goethe dipaksa kembali ke Frankfurt pada Agustus 1768.
Di Frankfurt Goethe mengalami sakit keras. Pada tahun itu dan setengah tahun berikutnya, karena beberapa kali kambuh, hubungan dengan ayahnya pun memburuk. Selama masa penyembuhan, Goethe dirawat oleh Ibu dan saudarinya. Bosan berbaring di tempat tidur, ia menulis komedi kriminal yang kurang sopan. Pada bulan April 1770, ayahnya kehilangan kesabaran; Goethe meninggalkan Frankfurt untuk menyelesaikan studinya di Strasbourg.

Di Alsace, Goethe berkembang. Tidak ada tempat lain yang digambarkannya dengan baik sebagai area sungai Rhine yang luas dan hangat.  Di Strasbourg, Goethe bertemu dengan Johann Gottfried  Herder, yang kebetulan berada disana untuk operasi mata.  Keduanya menjadi teman dekat, dan yang penting dalam perkembangan intelektual Goethe adalah bahwa Herder-lah yang menyalakan ketertarikan Goethe terhadap Shakespeare, Ossian dan gagasan tentang Volkpoessie (folk poetry).  Pada 14 Oktober 1772, dia mengadakan pidato untuk menghormati Hari Shakespeare pertama di Jerman.  Pertemuan pertamanya dengan karya Goethe digambarkannya sebagai kebangkitan pribadinya dalam hal literatur.

Dalam sebuah perjalanan ke Sesenheim, Goethe jatuh hati pada Friederike Brion, namun dua minggu kemudian mengakhiri hubungannya.  Beberapa puisinya, seperti Wilkommen und Abschied, Sesenheimer Lieder dan Heideroslein, berasal dari masa ini.

Pada akhir Agustus 1771, Goethe mendapat sertifikat sebagai licensee di Frankfurt. Dia ingin membuat hukum menjadi lebih manusiawi. Pada kasus-kasus pertamanya, dia terlalu bersemangat sehingga mendapatkan teguran dan kehilangan posisinya.  Hal ini mengakhiri karirnya sebagai pengacara secara dini dalam beberapa bulan saja.  Pada saat ini, Goethe diperkenalkan dengan pengadilan Darmstadt dimana daya ciptanya dihargai.  Di lingkungan ini dia berkenalan dengan Johann Georg Schlosser (yang kelak menjadi saudara iparnya) dan Johann Heinrich Merck.  Goethe juga mengejar cita-citanya di bidang literatur; pada masa ini, ayahnya tidak lagi menentangnya, dan bahkan membantunya.  Goethe mendapatkan sebuah buku biografi tentang seorang penyamun mulia dari masa Peasants' War. Dalam dua minggu biografi itu telah ditulis ulang menjadi sebuah drama yang penuh warna. Dengan judul Gotz von Berlichingen, karya tersebut langsung menjadi salah satu karya kontemporer yang penting dari Goethe.

Goethe tidak betah lagi menjadi salah satu editor dari terbitan sastra berkala (yang diterbitkan oleh Schlosser dan Merck). Pada bulan Mei 1772, sekali lagi ia berpraktek hukum di Wetzlar. Pada 1774 Goethe menulis buku yang membawanya pada ketenaran di seluruh dunia, The Sorrows of Young Werther. Walaupun karyanya sukses besar, tapi tidak memberikannya kekayaan karena saat itu belum ada undang-undang hak cipta. Di tahun-tahun berikutnya, Goethe mengatasi masalah ini dengan menerbitkan secara berkala edisi-edisi baru atau revisi dari Karya Lengkap nya.

Pada 1775, karena nama besarnya sebagai penulis dari The Sorrows of the Young Werther, Goethe diundang ke istana Carl August, Duke of Saxe-Weimar-Eisenach, yang akan menjadi Grand Duke pada 1815. Saat itu sang Duke berusia 18 tahun dan Goethe 26.  Karenanya Goethe pergi dan tinggal di Weimar, dimana ia menetap sampai akhir hayatnya, dan setelah bertahun-tahun, dia memegang jabatan sebagai penasehat kepala dari sang Duke.

Pada 1776, Goethe menjalin hubungan yang erat dengan Charlotte von Stein, seorang wanita yang lebih tua dan telah menikah, yang sebelumnya telah membuat Goethe tergila-gila dan menginspirasi terciptanya The Sorrow of Young Werther. Hubungan dengan Nyonya von Stein ini bertahan sampai 10 tahun dan kemudian Goethe secara tiba-tiba pergi ke Italia tanpa pemberitahuan apapun pada rekannya itu.  Sang wanita pun menjadi putus asa ketika itu, namun pada akhirnya mereka berdamai.

Goethe, disamping bertugas resmi, juga merupakan teman dan orang kepercayaan sang Duke, serta berpartisipasi secara penuh terhadap aktivitas istana. Bagi Goethe, sepuluh tahun pertamanya di Weimar dapat digambarkan sebagai merintis ke tingkatan dan pengalaman tertentu yang mungkin tidak akan didapatkan dengan cara lain.Goethe diangkat sebagai bangsawan pada 1782 (yang ditandai dengan "von" pada namanya).

Selama Goethe bertugas menjadi anggota Geheime Consilium, yaitu sebuah lingkaran konsultatif terdekat dari Duke Carl August of Saxony-Weimar, terjadi tiga kasus pembunuhan bayi baru lahir oleh ibunya sendiri. Dimana pada 1781 Dorothea Altwein dihukum seumur hidup (dibebaskan setelah 27 tahun), dan Maria Rost dihukum seumur hidup tanpa tuntutan peradilan (dibebaskan setelah 6 tahun), Johanna Hohn dihukum mati. Johanna Catharina Hohn, lahir 15 April 1759 di Tannroda, Saxony-Weimar, telah membunuh bayi laki-laki yang baru saja dilahirkannya karena serangan panik. Tindakannya itu telah membuat dia sangat mungkin untuk dihukum mati dengan pedang. Namun Duke Carl August mengirim putusan hukumannya untuk ditinjau ulang, karena adanya argumen untuk meringankannya. Sang Duke ingin menyelamatkannya, mencabut hukuman negara untuk kasusnya menjadi hukuman seumur hidup. Karenanya ia meneruskan kasus Johanna ini kepada anggota pemerintahan dan lingkaran konsultatifnya.  Ketiga anggota Consilium, Goethe, Fritsch dan Schnauss, memberikan suara pada 4 November 1783. Konselor yang lain, Fritsch dan Schnauss, memberikan suara terlebih dahulu. Suara Goethe memutuskan kasus ini. Di Saxony-Weimar hukuman negara tidak dicabut. Duke Carl August segera memerintahkan untuk eksekusi Johanna. Johanna Hohn dipenggal pada 28 November 1783.

Perjalanan Goethe ke semenanjung Italia dari 1786 sampai 1788 sangat berperan pada perkembangan estetika dan filsafatnya. Ayahnya telah melakukan perjalanan yang sama pada masa mudanya, dan hal itu yang memotivasi Goethe untuk melakukan perjalanan yang sama.  Lebih penting lagi, karya dari Johann Joachim Winckelmann telah memicu ketertarikan baru terhadap seni klasik dari Yunani dan Romawi kuno. Karenanya perjalanan Goethe adalah semacam ziarah terhadap hal itu. Selama perjalanan ini Goethe bertemu dan berteman dengan seniman Angelica Kauffmann dan Johann Heinrich Wilhelm Tischbein, dan menemukan karakter Lady Hamilton dan Alessandro Cagliostro.

Dia juga melakukan perjalanan ke Sisilia dan menuliskan bahwa "Berkunjung ke Italia tanpa mengunjungi Sisilia sama dengan belum berkunjung ke Italia sama sekali, karena Sisilia adalah kunci untuk segalanya."  Ketika berada di Italia selatan dan Sisilia, Goethe menemukan untuk pertama kalinya arsitektur Yunani asli (bukannya Romawi), dan cukup terkejut oleh kesederhanaannya. Winckelmann tidak dapat mengenali perbedaan diantara keduanya.
Catatan harian Goethe dari periode ini membentuk dasar dari tulisan non fiksi Italian Journey. Italian Journey hanya menceritakan kunjungan Goethe di tahun pertama. Sisanya tidak terdokumentasi, disamping kenyataan bahwa dia melewatkan banyak waktunya di Venezia. Tidak adanya rekaman catatan ini menjadi sumber munculnya spekulasi tentang hal ini untuk bertahun-tahun berikutnya.
Pada dekade-dekade berikutnya setelah publikasi Italian Journey pada 1816, menginspirasi banyak pemuda Jerman untuk mengikuti contoh Goethe. Ini digambarkan, secara satir, pada Middlemarch karya George Elliot.

Di akhir 1792, Goethe mengambil bagian dalam perang Valmy melawan Prancis revolusioner, membantu Duke Carl August of Saxe-Weimar selama invasi Prancis yang gagal. Pada pengepungan Mainz, ia juga membantu Carl August sebagai military observer. Tulisannya tentang kejadian ini dapat ditemukan pada Complete Works.
Pada 1794 Friedrich Schiller menulis pada Goethe menawarkan pertemanan; sebelumnya mereka hanya menjalin hubungan yang saling waspada sejak perkenalan pertama mereka pada 1788. Persahabatan ini bertahan sampai kematian Schiller pada 1805.
Pada 1806, Goethe tinggal di Weimar bersama pasangannya Christiane Vulpius, saudari dari Christian A Vulpius, dan putra mereka Julius August Walter von Goethe. Pada 13 Oktober, pasukan Napoleon menginvasi kota. Prajurit Prancis yang paling buruk disiplinnya, "spoon guards", menduduki rumah Goethe.

Spoon guards menerobos masuk, sambil mabuk dan berteriak-teriak memanggil tuan rumah. Sekertaris Goethe Riemer melaporkan : "Walaupun telah berganti pakaian dan hanya mengenakan gaun malam lebar... ia menuruni tangga menuju mereka dan menanyakan apa yang mereka inginkan darinya... Sosoknya yang bermartabat, menuntut penghormatan dan air muka yang spiritual nampaknya lebih berkesan bahkan bagi mereka." Tapi itu tidak bertahan lama. Pada larut malam mereka menyerbu masuk kamar tidurnya dengan bayonet terhunus. Goethe amat ketakutan, Christiane membuat banyak keributan dan bahkan bergelut dengan mereka, orang-orang yang sebelumnya telah mengungsi ke rumah Goethe menyerbu masuk sehingga para penyamun itu mundur lagi. Adalah Christiane yang mengkomando dan mengorganisir pertahanan dari rumah itu dengan menggunakan Frauenplan. Membarikade dapur dan ruang bawah tanah terhadap perampasan oleh prajurit itu adalah hasil kerjanya. Goethe menyebutkan dalam buku hariannya: "Api, perampokan, malam yang penuh ketakutan... Pertahanan rumah itu adalah karena ketabahan dan keberuntungan." Keberuntungan Goethe dan ketabahan yang ditunjukkan oleh Christiane. - Schopenhauer and the Wild Years of Philosophy.

Pada keesokan harinya, Goethe meresmikan hubungannya yang telah berjalan 18 tahun dengan menikahi Christiane pada sebuah pernikahan sederhana di kapel istana. Mereka telah memiliki beberapa orang anak pada saat ini, termasuk putra mereka Julius August Walter von Goethe, yang istrinya, Ottilie von Pogwisch, merawat Goethe tua sampai wafatnya pada 1832.  Pasangan ini mempunyai tiga orang anak, Walther Freiherr von Goethe, Wolfgang Freiherr von Goethe dan Alma von Goethe. Christiane Vulpius meninggal pada 1816.

Setelah 1793, Goethe memusatkan usahanya pada karya sastra. Pada 1820, Goethe berhubungan baik dengan Kaspar Maria von Sternberg. Pada 1823, pulih dari sakit jantung yang hampir fatal, Goethe jatuh hati pada Ulrike von Levetzow yang ingin dinikahinya, namun karena penolakan ibunya Goethe pun tak pernah melamar. Pertemuan terakhir mereka di Carlsbad pada 5 September 1823 menginspirasi Goethe pada karya Marienbad Elegy yang menurutnya adalah salah satu karya terbaik dan paling disukainya.
Pada 1832, Goethe meninggal di Weimar. Dia dimakamkan di ruang bangsawan di pemakaman bersejarah Weimar.

Eckermann menutup karya terkenalnya, Conversations with Goethe, dengan paragraf berikut :

The morning after Goethe's death, a deep desire seized me to look once again upon his earthly garment. His faithful servant, Frederick, opened for me the chamber in which he was laid out. Stretched upon his back, he reposed as if asleep; profound peace and security reigned in the features of his sublimely noble countenance. The mighty brow seemed yet to harbour thoughts. I wished for a lock of his hair; but reverence prevented me from cutting it off. The body lay naked, only wrapped in a white sheet; large pieces of ice had been placed near it, to keep it fresh as long as possible. Frederick drew aside the sheet, and I was astonished at the divine magnificence of the limbs. The breast was powerful, broad and arched; the arms and thighs were elegant, and of the most perfect shape; nowhere, on the whole body, was there a trace of either fat or of leanness and decay. A perfect man lay in great beauty before me; and the rapture the sight caused me made me forget for a moment that the immortal spirit had left such an abode. I laid my hand on his heart - there was a deep silence - and I turned away to give free vent to my suppressed tears.


Produksi pertama opera Lohengrin karya Richard Wagner bertempat di Weimar pada 1850. Konduktornya adalah Franz Liszt, yang memilih tanggal 28 Agustus untuk menghormati Goethe, yang lahir pada 28 Agustus 1749.

================
=========
================

Cukup itulah... Kalau mau yang lebih panjang dan lengkap, sudah banyak buku-buku yang menulis tentang Goethe. Silahkan dicari sendiri.
Next, apa ya.... Negara Jerman? Budaya Jerman? Orang-orang terkenal di Jerman? Sejarah Jerman? Obyek wisata di Jerman? Makanan khas Jerman? Wah, masih banyak yang bisa dibahas...

Auf Wiederlesen.... Hehehe...

Dunia Baru...


Willkommen beim Goethe-Institut

Setelah sekian lama mendamba (cieee... lebay...), hampir 10 tahun, termimpi-mimpi pengen belajar bahasa Jerman langsung dari Goethe-Institute, akhirnya, Alhamdulillah, tercapai juga.... Tapi jadi ada rasa sesal. Kok? Iya lah, nyesel, kenapa gak dari pertama datang ke Bandung? Kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu, waktu belum punya anak, masih banyak waktu, belum banyak pikiran... Tapi no problemo. Yang penting pada akhirnya kan kesampaian juga.

Sabtu kemaren, hari pertama masuk kelas. Asik, keren, persis seperti yang kubayangkan.. Bonafide...
Ada berbagai kelas yang ditawarkan. Mulai dari super intensif yang masuk tiap hari, sampe privat. Sebenernya aku pengen ambil yang superintensif, soalnya aku pengen banget cepet bisa.  Tapi bagaimana mungkin... Bisa dipecat aku.  Dan akupun harus berpuas diri dengan kelas ekstensifku yang cuma tiap Sabtu, dan naik level tiap 3 bulan.

Kelasku kayaknya termasuk yang gak terlalu padat. Cuma 12 orang (Fitri, Vincent, Beki, Iras, Sena, Haidar, Sania, Daniel, Dita, Alifa, Gita und Ich). Dan tentu saja aku yang paling senior (gak mau dibilang tua... ;p). 11 orang lainnya masih SMA dan kuliah. Lehrerinnya : Frau Suciati Safitri Siregar, perempuan berjilbab asli Bandung yang menikah dengan seorang Siregar, dan pernah 7 tahun tinggal di Deutschland. Dan pastinya bahasa Jermannya keren... (ya iyalah, kalo gak mana mungkin jadi Lehrerin, di Goethe-Institute pula).

Pertemuan pertama cuma perkenalan terhadap bahasa, negara dan budaya Jerman. Soal bahasa, rasanya aku lumayan lah, gak terlalu malu-maluin dibanding yang lain. Mungkin karena aku sempat kursus waktu Ko-Ass dulu, walaupun cuma beberapa kali pertemuan, dan drop out, makanya aku gak terlalu ketinggalan lah dibanding anak-anak itu, yang mungkin dapat pelajaran bahasa Jerman dari sekolahnya. Tapi ternyata, pengetahuanku tentang negara dan budaya Jerman, gak ada apa-apanya. Malu...

Dan satu lagi yang bikin agak down. Ternyata, level bahasa Jerman, bukan hanya 6 level yang dulu kukira bisa kupelajari dalam 6 x 3 bulan kelas ekstensif. Ternyata, A1, A2, B1, B2, C1 dan C2 itu, masing-masing masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa level. A1 dibagi menjadi A1.1, A1.2 dan A1.3 yang masing-masing dipelajari dalam 3 bulan kelas ekstensif. Jadi, level A1 saja, baru bisa dituntaskan dalam 3 x 3 bulan (9 bulan). Level A2 ada 2 bagian, level B1 ada 3 bagian, level B2 ada 6 bagian, level C1 ada 5 bagian dan C2 ada 5 bagian. Kalau kuhitung-hitung, semua ada 24 bagian, kalo aku bertahan di kelas ekstensif, berarti 3 x 24 bagian = 72 bulan.  6 tahun!!!!!!   Hiks, mana mungkin....

Tapi tetep semangat!!!  Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Insya Allah ada jalan keluar, somehow...