Minggu, 17 Oktober 2010

Baby's Day Out..

Untuk sementara acara belajarnya dipending dulu. Saatnya menikmati waktu libur yang langka untuk bersama buah hati tercinta. Kemana? Yang dekat-dekat saja...
Tadinya rencana mau piknik seharian. Bekal sudah dipersiapkan sejak hari sebelumnya. Belanja untuk bikin bekal yang sehat. Siapa tahu sambil jalan, my sun mau makan banyak. Sembari penghematan tentunya. Biar gak usah jajan.
Pagi-pagi, mulai mengolah a'la Chef jadi-jadian, rasanya pun asal-asalan deh... Hihihi...

Setelah semua siappp.... Perjalanan pun dimulai...
Kita pun berkuda menyeberangi kota Bandung yang selalu padat merayap itu... Hufff.... Dan akhirnya, sampailah kita diiiii.....



Ya... Tadinya punya banyak rencana. Berangkat pagi-pagi, ke Ciater Subang, berendam air panas & main air. Mungkin sedikit jalan-jalan di kebun teh. Trus, agak siangan, geser ke Tangkuban Parahu, sambil makan siang. Habis itu, sambil jalan pulang, baru mampir di Rumah Sosis. Tapi berhubung langit di atas Tangkuban Perahu sepertinya mendung berat, daripada kehujanan di jalan, mending stop di sini aja gitu....

Berhubung kita kesininya hari kerja, jadi gak terlalu rame. Pas kita dateng cuma ada segerombolan anak TK bersama guru-gurunya sedang berenang di kolam kecil. Gak seberapa lama kita disana, mereka naik untuk makan dan pulang. Akhirnya kita sendirian aja dweh, cuma sama 1 orang bapak-bapak separuh baya yang dengan semangat terus berenang non stop. Tanpa basa basi, kita pun langsung nyebur.
Anakku agak takut awalnya. Maklum, belum pernah diajak berenang. sebelumnya. Dan kayaknya dia takut ngeliat air yang buanyakkk gitu. Tapi dengan bujuk rayu plus sedikit paksaan, dia pun mau main.

Ini dia sebagian hasilnya (Kok hasil aplodnya jelek ya? Padahal fotonya bagus.)... Kapan-kapan kita piknik lagi ya... Ke tempat yang lebih keren. InsyaAllah.


Nonton freefall, sambil piknik

Yeaahhhh...


Yak, tuk, wak, tuk, wak...
Sliding
Bbrrrmmmmm....

"Lihat, kudanya senyum!!"





Ayo nak, jangan takut... Semangat!!!

Ambil ancang-ancang
Yang mandi bola siapa ya sebenernya???
Kok ada penampakan...
Bolanya kok lari sih..
Satu, dua, tiga.... Shoot!


Minggu, 10 Oktober 2010

Having fun

Belajar Jerman yukk...

Kalau di TV ada program "Belajar Indonesia", disini aku sedang belajar Jerman. Biarin, walaupun ada target lain yang harus kukejar (meng-khatam-kan 3000 halaman textbook Ilmu Penyakit Dalam dalam 21 minggu..), tapi itu kurasakan sebagai kewajiban. Dan belajar Jerman (dan bahasa asing lainnya) adalah hobiku, kesenanganku, my passion, penyegaran bagi psikisku biar gak stress. Walaupun judulnya sama-sama "belajar", tapi belajar bahasa asing sama sekali gak bikin stress dan sangat menyenangkan.  Oleh karena itu, maka, dengan demikian, thus, marilah kita mulai belajar (tentng) Jerman, dimulai dengaaannnnnn.... Goethe himself...

Johann Wolfgang von Goethe



Johann Wolfgang von Goethe lahir di Frankfurt pada 28 Agustus 1749. Ia adalah penulis dan pemikir terkemuka yang mempengaruhi kebudayaan Barat. Karya-karyanya meliputi puisi, drama, literatur, theologi, filsafat sampai ilmu pengetahuan. Karya terbesarnya yang disebut-sebut sebagai puncak dari literatur Barat, adalah drama Faust.  Karya lainnya adalah berbagai puisi, roman Wilhelm Meister's Apprenticeship dan novel The Sorrows of Young Werther.

Ayah Goethe, Johann Caspar Goethe, tinggal di sebuah rumah besar bersama keluarganya di Frankfurt. Ibu Goethe, Catharina Elisabeth Textor, adalah putri dari walikota Frankfurt, Johann Wolfgang Textor dan istrinya Anna Margaretha Lindheimer, yang merupakan keturunan dari Lucas Cranach the Elder dan Henry III, menikahi Johann Caspar yang ketika itu berusia 38 tahun dan ia sendiri berusi 17 tahun, di Frankfurt pada 20 Agustus 1748. Semua anaknya, kecuali Goethe dan saudarinya Cornelia Friederike Christiana yang dilahirkan pada1750, meninggal pada usia muda.

Johann Caspar dan guru-guru pribadi mengajar Goethe hal-hal yang umum dipelajari waktu itu, terutama bahasa (Latin, Yunani, Prancis dan Inggris). Juga pelajaran dansa, berkuda dan anggar.  Goethe sangat tidak menyukai gereja. Ia sangat tertarik pada lukisan dan segera menyukai literatur. Ia juga menyukai teater dan pertunjukan wayang (puppet).  Ia juga menikmati membaca buku sejarah dan agama.  Ia menuliskan periode ini sebagai :

" I had from childhood the singular habit of always learning by heart the beginnings of books, and the divisions of a work, first of the five books of Moses, and then of the Aeneid and Ovid's Metamorphoses. . . If an ever busy imagination, of which that tale may bear witness, led me hither and thither, if the medley of fable and history, mythology and religion, threatened to bewilder me, I readily fled to those oriental regions, plunged into the first book of Moses, and there, amid the scattered shepherd tribes, found myself at once in the greatest solitude and the greatest society."

Goethe belajar hukum di Leipzig dari 1765 sampai 1768. Ia tidak serius mempelajari peraturan hukum tetapi justru menghadiri pelajaran puisi dari Christian Furchtegott Gellert.  Di Leipzig, Goethe jatuh cinta pada Kathchen Schonkopf dan menulis puisi ceria tentangnya di Rococo.  Pada 1770, dia merilis kumpulan puisi pertamanya, Annette, secara anonim. Kekagumannya terhadap puisi kontemporer menghilang ketika ia mulai tertarik pada Lessing dan Wieland. Pada saat ini Goethe telah menulis banyak hal, tapi ia membuang hampir semua karyanya itu kecuali sebuah komedi Die Mitschuldigen.  Restoran Auerbach Keller dan legenda Faust-nya sangat berkesan bagi Goethe sehingga Auerbach Keller menjadi satu-satunya tempat yang nyata yang ada dalam drama Faust bagian I.  Karena studinya tidak mengalami kemajuan, Goethe dipaksa kembali ke Frankfurt pada Agustus 1768.
Di Frankfurt Goethe mengalami sakit keras. Pada tahun itu dan setengah tahun berikutnya, karena beberapa kali kambuh, hubungan dengan ayahnya pun memburuk. Selama masa penyembuhan, Goethe dirawat oleh Ibu dan saudarinya. Bosan berbaring di tempat tidur, ia menulis komedi kriminal yang kurang sopan. Pada bulan April 1770, ayahnya kehilangan kesabaran; Goethe meninggalkan Frankfurt untuk menyelesaikan studinya di Strasbourg.

Di Alsace, Goethe berkembang. Tidak ada tempat lain yang digambarkannya dengan baik sebagai area sungai Rhine yang luas dan hangat.  Di Strasbourg, Goethe bertemu dengan Johann Gottfried  Herder, yang kebetulan berada disana untuk operasi mata.  Keduanya menjadi teman dekat, dan yang penting dalam perkembangan intelektual Goethe adalah bahwa Herder-lah yang menyalakan ketertarikan Goethe terhadap Shakespeare, Ossian dan gagasan tentang Volkpoessie (folk poetry).  Pada 14 Oktober 1772, dia mengadakan pidato untuk menghormati Hari Shakespeare pertama di Jerman.  Pertemuan pertamanya dengan karya Goethe digambarkannya sebagai kebangkitan pribadinya dalam hal literatur.

Dalam sebuah perjalanan ke Sesenheim, Goethe jatuh hati pada Friederike Brion, namun dua minggu kemudian mengakhiri hubungannya.  Beberapa puisinya, seperti Wilkommen und Abschied, Sesenheimer Lieder dan Heideroslein, berasal dari masa ini.

Pada akhir Agustus 1771, Goethe mendapat sertifikat sebagai licensee di Frankfurt. Dia ingin membuat hukum menjadi lebih manusiawi. Pada kasus-kasus pertamanya, dia terlalu bersemangat sehingga mendapatkan teguran dan kehilangan posisinya.  Hal ini mengakhiri karirnya sebagai pengacara secara dini dalam beberapa bulan saja.  Pada saat ini, Goethe diperkenalkan dengan pengadilan Darmstadt dimana daya ciptanya dihargai.  Di lingkungan ini dia berkenalan dengan Johann Georg Schlosser (yang kelak menjadi saudara iparnya) dan Johann Heinrich Merck.  Goethe juga mengejar cita-citanya di bidang literatur; pada masa ini, ayahnya tidak lagi menentangnya, dan bahkan membantunya.  Goethe mendapatkan sebuah buku biografi tentang seorang penyamun mulia dari masa Peasants' War. Dalam dua minggu biografi itu telah ditulis ulang menjadi sebuah drama yang penuh warna. Dengan judul Gotz von Berlichingen, karya tersebut langsung menjadi salah satu karya kontemporer yang penting dari Goethe.

Goethe tidak betah lagi menjadi salah satu editor dari terbitan sastra berkala (yang diterbitkan oleh Schlosser dan Merck). Pada bulan Mei 1772, sekali lagi ia berpraktek hukum di Wetzlar. Pada 1774 Goethe menulis buku yang membawanya pada ketenaran di seluruh dunia, The Sorrows of Young Werther. Walaupun karyanya sukses besar, tapi tidak memberikannya kekayaan karena saat itu belum ada undang-undang hak cipta. Di tahun-tahun berikutnya, Goethe mengatasi masalah ini dengan menerbitkan secara berkala edisi-edisi baru atau revisi dari Karya Lengkap nya.

Pada 1775, karena nama besarnya sebagai penulis dari The Sorrows of the Young Werther, Goethe diundang ke istana Carl August, Duke of Saxe-Weimar-Eisenach, yang akan menjadi Grand Duke pada 1815. Saat itu sang Duke berusia 18 tahun dan Goethe 26.  Karenanya Goethe pergi dan tinggal di Weimar, dimana ia menetap sampai akhir hayatnya, dan setelah bertahun-tahun, dia memegang jabatan sebagai penasehat kepala dari sang Duke.

Pada 1776, Goethe menjalin hubungan yang erat dengan Charlotte von Stein, seorang wanita yang lebih tua dan telah menikah, yang sebelumnya telah membuat Goethe tergila-gila dan menginspirasi terciptanya The Sorrow of Young Werther. Hubungan dengan Nyonya von Stein ini bertahan sampai 10 tahun dan kemudian Goethe secara tiba-tiba pergi ke Italia tanpa pemberitahuan apapun pada rekannya itu.  Sang wanita pun menjadi putus asa ketika itu, namun pada akhirnya mereka berdamai.

Goethe, disamping bertugas resmi, juga merupakan teman dan orang kepercayaan sang Duke, serta berpartisipasi secara penuh terhadap aktivitas istana. Bagi Goethe, sepuluh tahun pertamanya di Weimar dapat digambarkan sebagai merintis ke tingkatan dan pengalaman tertentu yang mungkin tidak akan didapatkan dengan cara lain.Goethe diangkat sebagai bangsawan pada 1782 (yang ditandai dengan "von" pada namanya).

Selama Goethe bertugas menjadi anggota Geheime Consilium, yaitu sebuah lingkaran konsultatif terdekat dari Duke Carl August of Saxony-Weimar, terjadi tiga kasus pembunuhan bayi baru lahir oleh ibunya sendiri. Dimana pada 1781 Dorothea Altwein dihukum seumur hidup (dibebaskan setelah 27 tahun), dan Maria Rost dihukum seumur hidup tanpa tuntutan peradilan (dibebaskan setelah 6 tahun), Johanna Hohn dihukum mati. Johanna Catharina Hohn, lahir 15 April 1759 di Tannroda, Saxony-Weimar, telah membunuh bayi laki-laki yang baru saja dilahirkannya karena serangan panik. Tindakannya itu telah membuat dia sangat mungkin untuk dihukum mati dengan pedang. Namun Duke Carl August mengirim putusan hukumannya untuk ditinjau ulang, karena adanya argumen untuk meringankannya. Sang Duke ingin menyelamatkannya, mencabut hukuman negara untuk kasusnya menjadi hukuman seumur hidup. Karenanya ia meneruskan kasus Johanna ini kepada anggota pemerintahan dan lingkaran konsultatifnya.  Ketiga anggota Consilium, Goethe, Fritsch dan Schnauss, memberikan suara pada 4 November 1783. Konselor yang lain, Fritsch dan Schnauss, memberikan suara terlebih dahulu. Suara Goethe memutuskan kasus ini. Di Saxony-Weimar hukuman negara tidak dicabut. Duke Carl August segera memerintahkan untuk eksekusi Johanna. Johanna Hohn dipenggal pada 28 November 1783.

Perjalanan Goethe ke semenanjung Italia dari 1786 sampai 1788 sangat berperan pada perkembangan estetika dan filsafatnya. Ayahnya telah melakukan perjalanan yang sama pada masa mudanya, dan hal itu yang memotivasi Goethe untuk melakukan perjalanan yang sama.  Lebih penting lagi, karya dari Johann Joachim Winckelmann telah memicu ketertarikan baru terhadap seni klasik dari Yunani dan Romawi kuno. Karenanya perjalanan Goethe adalah semacam ziarah terhadap hal itu. Selama perjalanan ini Goethe bertemu dan berteman dengan seniman Angelica Kauffmann dan Johann Heinrich Wilhelm Tischbein, dan menemukan karakter Lady Hamilton dan Alessandro Cagliostro.

Dia juga melakukan perjalanan ke Sisilia dan menuliskan bahwa "Berkunjung ke Italia tanpa mengunjungi Sisilia sama dengan belum berkunjung ke Italia sama sekali, karena Sisilia adalah kunci untuk segalanya."  Ketika berada di Italia selatan dan Sisilia, Goethe menemukan untuk pertama kalinya arsitektur Yunani asli (bukannya Romawi), dan cukup terkejut oleh kesederhanaannya. Winckelmann tidak dapat mengenali perbedaan diantara keduanya.
Catatan harian Goethe dari periode ini membentuk dasar dari tulisan non fiksi Italian Journey. Italian Journey hanya menceritakan kunjungan Goethe di tahun pertama. Sisanya tidak terdokumentasi, disamping kenyataan bahwa dia melewatkan banyak waktunya di Venezia. Tidak adanya rekaman catatan ini menjadi sumber munculnya spekulasi tentang hal ini untuk bertahun-tahun berikutnya.
Pada dekade-dekade berikutnya setelah publikasi Italian Journey pada 1816, menginspirasi banyak pemuda Jerman untuk mengikuti contoh Goethe. Ini digambarkan, secara satir, pada Middlemarch karya George Elliot.

Di akhir 1792, Goethe mengambil bagian dalam perang Valmy melawan Prancis revolusioner, membantu Duke Carl August of Saxe-Weimar selama invasi Prancis yang gagal. Pada pengepungan Mainz, ia juga membantu Carl August sebagai military observer. Tulisannya tentang kejadian ini dapat ditemukan pada Complete Works.
Pada 1794 Friedrich Schiller menulis pada Goethe menawarkan pertemanan; sebelumnya mereka hanya menjalin hubungan yang saling waspada sejak perkenalan pertama mereka pada 1788. Persahabatan ini bertahan sampai kematian Schiller pada 1805.
Pada 1806, Goethe tinggal di Weimar bersama pasangannya Christiane Vulpius, saudari dari Christian A Vulpius, dan putra mereka Julius August Walter von Goethe. Pada 13 Oktober, pasukan Napoleon menginvasi kota. Prajurit Prancis yang paling buruk disiplinnya, "spoon guards", menduduki rumah Goethe.

Spoon guards menerobos masuk, sambil mabuk dan berteriak-teriak memanggil tuan rumah. Sekertaris Goethe Riemer melaporkan : "Walaupun telah berganti pakaian dan hanya mengenakan gaun malam lebar... ia menuruni tangga menuju mereka dan menanyakan apa yang mereka inginkan darinya... Sosoknya yang bermartabat, menuntut penghormatan dan air muka yang spiritual nampaknya lebih berkesan bahkan bagi mereka." Tapi itu tidak bertahan lama. Pada larut malam mereka menyerbu masuk kamar tidurnya dengan bayonet terhunus. Goethe amat ketakutan, Christiane membuat banyak keributan dan bahkan bergelut dengan mereka, orang-orang yang sebelumnya telah mengungsi ke rumah Goethe menyerbu masuk sehingga para penyamun itu mundur lagi. Adalah Christiane yang mengkomando dan mengorganisir pertahanan dari rumah itu dengan menggunakan Frauenplan. Membarikade dapur dan ruang bawah tanah terhadap perampasan oleh prajurit itu adalah hasil kerjanya. Goethe menyebutkan dalam buku hariannya: "Api, perampokan, malam yang penuh ketakutan... Pertahanan rumah itu adalah karena ketabahan dan keberuntungan." Keberuntungan Goethe dan ketabahan yang ditunjukkan oleh Christiane. - Schopenhauer and the Wild Years of Philosophy.

Pada keesokan harinya, Goethe meresmikan hubungannya yang telah berjalan 18 tahun dengan menikahi Christiane pada sebuah pernikahan sederhana di kapel istana. Mereka telah memiliki beberapa orang anak pada saat ini, termasuk putra mereka Julius August Walter von Goethe, yang istrinya, Ottilie von Pogwisch, merawat Goethe tua sampai wafatnya pada 1832.  Pasangan ini mempunyai tiga orang anak, Walther Freiherr von Goethe, Wolfgang Freiherr von Goethe dan Alma von Goethe. Christiane Vulpius meninggal pada 1816.

Setelah 1793, Goethe memusatkan usahanya pada karya sastra. Pada 1820, Goethe berhubungan baik dengan Kaspar Maria von Sternberg. Pada 1823, pulih dari sakit jantung yang hampir fatal, Goethe jatuh hati pada Ulrike von Levetzow yang ingin dinikahinya, namun karena penolakan ibunya Goethe pun tak pernah melamar. Pertemuan terakhir mereka di Carlsbad pada 5 September 1823 menginspirasi Goethe pada karya Marienbad Elegy yang menurutnya adalah salah satu karya terbaik dan paling disukainya.
Pada 1832, Goethe meninggal di Weimar. Dia dimakamkan di ruang bangsawan di pemakaman bersejarah Weimar.

Eckermann menutup karya terkenalnya, Conversations with Goethe, dengan paragraf berikut :

The morning after Goethe's death, a deep desire seized me to look once again upon his earthly garment. His faithful servant, Frederick, opened for me the chamber in which he was laid out. Stretched upon his back, he reposed as if asleep; profound peace and security reigned in the features of his sublimely noble countenance. The mighty brow seemed yet to harbour thoughts. I wished for a lock of his hair; but reverence prevented me from cutting it off. The body lay naked, only wrapped in a white sheet; large pieces of ice had been placed near it, to keep it fresh as long as possible. Frederick drew aside the sheet, and I was astonished at the divine magnificence of the limbs. The breast was powerful, broad and arched; the arms and thighs were elegant, and of the most perfect shape; nowhere, on the whole body, was there a trace of either fat or of leanness and decay. A perfect man lay in great beauty before me; and the rapture the sight caused me made me forget for a moment that the immortal spirit had left such an abode. I laid my hand on his heart - there was a deep silence - and I turned away to give free vent to my suppressed tears.


Produksi pertama opera Lohengrin karya Richard Wagner bertempat di Weimar pada 1850. Konduktornya adalah Franz Liszt, yang memilih tanggal 28 Agustus untuk menghormati Goethe, yang lahir pada 28 Agustus 1749.

================
=========
================

Cukup itulah... Kalau mau yang lebih panjang dan lengkap, sudah banyak buku-buku yang menulis tentang Goethe. Silahkan dicari sendiri.
Next, apa ya.... Negara Jerman? Budaya Jerman? Orang-orang terkenal di Jerman? Sejarah Jerman? Obyek wisata di Jerman? Makanan khas Jerman? Wah, masih banyak yang bisa dibahas...

Auf Wiederlesen.... Hehehe...

Dunia Baru...


Willkommen beim Goethe-Institut

Setelah sekian lama mendamba (cieee... lebay...), hampir 10 tahun, termimpi-mimpi pengen belajar bahasa Jerman langsung dari Goethe-Institute, akhirnya, Alhamdulillah, tercapai juga.... Tapi jadi ada rasa sesal. Kok? Iya lah, nyesel, kenapa gak dari pertama datang ke Bandung? Kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari dulu, waktu belum punya anak, masih banyak waktu, belum banyak pikiran... Tapi no problemo. Yang penting pada akhirnya kan kesampaian juga.

Sabtu kemaren, hari pertama masuk kelas. Asik, keren, persis seperti yang kubayangkan.. Bonafide...
Ada berbagai kelas yang ditawarkan. Mulai dari super intensif yang masuk tiap hari, sampe privat. Sebenernya aku pengen ambil yang superintensif, soalnya aku pengen banget cepet bisa.  Tapi bagaimana mungkin... Bisa dipecat aku.  Dan akupun harus berpuas diri dengan kelas ekstensifku yang cuma tiap Sabtu, dan naik level tiap 3 bulan.

Kelasku kayaknya termasuk yang gak terlalu padat. Cuma 12 orang (Fitri, Vincent, Beki, Iras, Sena, Haidar, Sania, Daniel, Dita, Alifa, Gita und Ich). Dan tentu saja aku yang paling senior (gak mau dibilang tua... ;p). 11 orang lainnya masih SMA dan kuliah. Lehrerinnya : Frau Suciati Safitri Siregar, perempuan berjilbab asli Bandung yang menikah dengan seorang Siregar, dan pernah 7 tahun tinggal di Deutschland. Dan pastinya bahasa Jermannya keren... (ya iyalah, kalo gak mana mungkin jadi Lehrerin, di Goethe-Institute pula).

Pertemuan pertama cuma perkenalan terhadap bahasa, negara dan budaya Jerman. Soal bahasa, rasanya aku lumayan lah, gak terlalu malu-maluin dibanding yang lain. Mungkin karena aku sempat kursus waktu Ko-Ass dulu, walaupun cuma beberapa kali pertemuan, dan drop out, makanya aku gak terlalu ketinggalan lah dibanding anak-anak itu, yang mungkin dapat pelajaran bahasa Jerman dari sekolahnya. Tapi ternyata, pengetahuanku tentang negara dan budaya Jerman, gak ada apa-apanya. Malu...

Dan satu lagi yang bikin agak down. Ternyata, level bahasa Jerman, bukan hanya 6 level yang dulu kukira bisa kupelajari dalam 6 x 3 bulan kelas ekstensif. Ternyata, A1, A2, B1, B2, C1 dan C2 itu, masing-masing masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa level. A1 dibagi menjadi A1.1, A1.2 dan A1.3 yang masing-masing dipelajari dalam 3 bulan kelas ekstensif. Jadi, level A1 saja, baru bisa dituntaskan dalam 3 x 3 bulan (9 bulan). Level A2 ada 2 bagian, level B1 ada 3 bagian, level B2 ada 6 bagian, level C1 ada 5 bagian dan C2 ada 5 bagian. Kalau kuhitung-hitung, semua ada 24 bagian, kalo aku bertahan di kelas ekstensif, berarti 3 x 24 bagian = 72 bulan.  6 tahun!!!!!!   Hiks, mana mungkin....

Tapi tetep semangat!!!  Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Insya Allah ada jalan keluar, somehow...

Senin, 31 Mei 2010

Renungan Malam

Hari Senin, 31 Mei 2010. Hari pertama minggu ini, sekaligus hari terakhir bulan ini. Menjelang tengah malam. Lagi-lagi terpuruk di sudut salah satu ruangan yang hampir menjadi rumah keduaku. Sendiri...

Merenungi nasib dan jalan hidupku selama ini. Sedikit cemburu pada orang-orang yang beruntung, bisa mengerjakan apa yang mereka cintai, dan mendapatkan penghidupan darinya. Tidak harus mengabdi pada siapapun, tanpa perlu bertanggung jawab pada siapapun. Tidak terikat pada aturan, tata tertib dan segala macam kewajiban. Indahnya hidup mereka...

Memang aku bukan orang yang suka bekerja keras. Aku juga bukan orang yang selalu ceria. Mungkin akupun bukan orang yang menyenangkan. Aku banyak berkeluh kesah, banyak bersedih, kadang murung, kadang lari dari kenyataan...
Namun bukan berarti aku tak tahu bersyukur. Aku mensyukuri hidupku selama ini. Aku hanya berharap, seandainya aku bisa menjalani hidup yang sesuai dengan keinginanku..

Sudah sering muncul keinginan untuk berhenti. Just quit.... Dari semua yang sedang aku jalani ini. Dan memilih untuk menjalani apa-apa yang aku inginkan. Agar aku bisa lebih ikhlas dalam hidup ini. Tanpa rasa terpaksa, tanpa tertekan...
Namun keadaan tidak memungkinkan.
Kadang aku berharap musibah menimpaku, agar aku bisa berhenti tanpa repot-repot mencari alasan. Namun aku tak berani benar-benar berharap. Aku takut, bila Allah mengabulkan keinginanku, dan musibah benar-benar diturunkan padaku, aku takut tak sanggup menerimanya.

Maka yang bisa kulakukan hanyalah berdoa. Memohon, dan meminta. Agar diberikan jalan terbaik untukku. Agar aku tak dibiarkan sendiri dalam memutuskan dan menjalani segala sesuatu. Agar diikhlaskan hatiku. Agar ditunjukkan jalanku. Agar dilindungi aku dan keluargaku...

YA ALLAH...
Dengarkanlah doa hamba-Mu yang lemah ini...

Jumat, 30 April 2010

Experience (really) is the best teacher

Sungguh, pengalaman itu guru yang sangat berharga. Walaupun kita termasuk golongan orang yang mudah lupa, sulit menyerap pelajaran selama di sekolah, susah memahami hal-hal yang kita baca dari buku, tapi kalau pelajaran yang diberikan oleh sang pengalaman, insyaAllah tidak akan lupa seumur hidup.

Dulu saya pikir saya hanya ditakdirkan untuk menjalani hidup yang datar-datar saja. Keluarga yang normal, sekolah yang normal, teman-teman yang normal, karir yang normal, semua biasa-biasa saja. Tapi belakangan tidak lagi. Banyak hal yang terjadi, yang tidak lagi bisa disebut "biasa-biasa saja". Baik itu hal pribadi, kehidupan sosial, maupun pekerjaan. Mungkin semua itu sekaligus sebagai sentilan buat saya, agar tidak lengah dan kehilangan kewaspadaan. Agar saya berubah jadi orang yang lebih baik dalam segala hal. Agar saya taubat, dan kembali ke jalan yang benar.

Pepatah bilang, orang yang sempit nalarnya, akan mengambil pelajaran dari hal-hal yang dialaminya sendiri. Namun orang yang luas wawasannya, cukup memetik hikmah dari pengalaman yang dialami orang lain. Semoga semua yang saya alami, bisa jadi bahan renungan dan diambil hikmahnya oleh orang lain, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Termasuk saya sendiri, semoga tidak terulang pada anak keturunan saya kelak.

Saya menyesal saya bukan termasuk orang yang supel, aktif, dan memiliki pergaulan yang luas. Saya tidak suka bicara. Akibatnya, ketika Allah swt. menakdirkan saya menjadi dokter dan menjadi tentara (dimana keduanya diwajibkan memiliki kemampuan komunikasi yang handal), saya jadi sangat mengalami kesulitan. Bahkan dalam kehidupan sosial pun saya juga mengalami kesulitan karena saya kurang bahan pembicaraan setip kali berkumpul dengan saudara maupun rekan-rekan lain. Akibatnya saya jadi minder, dan makin malas bersosialisasi. Saya dididik secara otoriter, akibatnya saya tidak kreatif dan kurang inisiatif. Hanya melakukan apa yang diperintahkan secara langsung saja. Tidak memahami apa yang tersirat. Saya kurang aktif berorganisasi waktu sekolah, akibatnya saya buta manajemen. Bekal agama saya kurang kuat, akibatnya saya sering tergelincir dan terjatuh. Kesalahan, kekurangan dan kelemahan saya sangat saya sesalkan. Karena sebenarnya semua itu bisa dicegah dan diubah. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Ada beberapa hal, yang tak dapat lagi saya ubah.

Sampai sekarangpun, banyak kejadian-kejadian yang telah memberi saya pelajaran. Memacu saya agar belajar lagi,lebih berhati-hati dan lebih perhatian lagi terhadap pasien, maupun terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar saya. Jangan terlalu mengandalakan insting dan keberuntungan lagi. Lebih hati-hati dan teliti dalam menilai. Jangan terburu-buru dan meremehkan setiap hal yang nampaknya biasa saja. Lebih berempati pada penderitaan orang lain. Jangan melupakan sedikitpun prosedur, sekecil apapun itu. Rasanya sekarang masih ada perlindungan Allah swt. Tapi lama kelamaan, kalau itu terus terjadi, bukan tak mungkin bisa terjadi apa yang saya takutkan selama ini. Naudzubillah min dzalik.

Pokoknya, intinya, keep learning, jangan malas, kalau perlu setiap ada kesempatan, diulang-ulang lagi, biar tidak lupa. Lebih aktif lagi, bersosialisasi lagi, jangan malaaaasssss.....

Kamis, 18 Maret 2010

A C L S

Baru saja saya mengikuti kursus bantuan hidup jantung lanjut (Advance Cardiac Live Support) yang diadakan oleh PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. Setelah 3 tahun berkecimpung di UGD, baru sekarang ACLS, menyesal juga kenapa gak dari dulu. Tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar, bukan? Mudah-mudahan Allah swt memberi saya rizki yang lebih, sehingga saya bisa segera mengikuti kursus-kursus lain yang saya perlukan, seperti ATLS, ANLS, FCCS, dll, sehingga kompetensi saya lebih mantap lagi. Amin...

Kursus yang saya ikuti kemarin dilaksanakan di PERKI House, daerah Benhil Jakarta, selama 3 hari (12-14 Maret). Dibagi menjadi 2 kelas, tiap kelas terdiri dari sekitar 30 orang. Peserta cukup beragam, mulai dokter yang baru lulus sampai yang sudah spesialis juga ada. Lulusan FK swasta maupun Negeri. Yang sudah PNS ataupun "pengangguran".
Hari pertama diawali dengan pre-test, sekitar 40 soal multiple choice, tentang pengetahuan dasar ACLS. Selnjutnya, langsung diisi dengan kuliah tentang Bantuan Hidup Dasar, ACLS, EKG dan Airway. Disampaikan oleh para ahli di bidangnya dengan cara yang menurut saya cukup menarik dan "nyanthol". Jadi bisa membuka mata, dan berpikir, selama ini kemana saja?
Sorenya, langsung ada skill station, BHD, Airway dan Electricity. Untuk BHD, mungkin sudah biasa, hanya RJP pada dummy, sendiri maupun 2 penolong, dengan perbandingan 30:2. Fasilitas yang diberikan cukup memadai, dummy masih cukup baru, 1 dummy : 1-2 peserta.
Di station airway, dummy hanya 1 buah untuk latihan intubasi. Kurang memadai, karena tiap peserta hanya berkesempatan 1 kali mencoba dengan pengawasan 1 orang instruktur yang sibuk dengan hp-nya. Untungnya, setelah kelas bubar, dan esok harinya, peserta diijinkan untuk berlatih lagi sendiri.
Di station electricity, peserta diberi pengenalan dan latihan electric shock, baik itu defibrilasi, maupun kardioversi. Buat saya pribadi, itu pertama kalinya saya melihat langsung, memegang dan mengoperasikan sebuah DC shock. Saya jadi pengen beli sendiri, karena di UGD saya masih belum ada...
Hari pertama berakhir pada pukul 18.00 wib.

Hari kedua, dilanjut dengan kuliah kelainan-kelainan EKG pada ACLS yang belum dismpaikan kemarin, kuliah farmakologi, dan latihan Megacode. Kelas dibagi menjadi 6 kelompok kecil, tiap kelompok 4-5 orang (karena ada peserta yang tidak hadir). Kelompok-kelompok kecil tersebut dibagi menjadi 2 kelas, dibawah instruktur yang berbeda. Tiap kelompok maju satu persatu, diberikan sebuah kasus multiple algorythm, dan kami harus menyelesaikannya secara tim. Seorang berperan sebagai kapten (dokter), seorang berperan di airway, seorang di kompresi dada, seorang sebagai tenaga yang memasukkan obat pada pasien, dan seorang lagi sebagai pencatat. Semua bekerja, semua dinilai. Gambaran EKG diberikan dari laptop instruktur yang dihubungkan dengan alat DC shock, kapten harus dapat menilai kelainan EKG apakah yang ada di monitor, memutuskan apa yang harus dilakukan tahap demi tahap, dan memerintahkan pada para pembantunya yang ada disana. Menurut saya, kelompok saya cukup solid dan menyenangkan. Tidak ada yang "lag" terlalu parah. dr. Manuel, Mas Muji, Komang, Natalie, kalian keren... :) Hari kedua berakhir pada pukul 16.00.

Hari ketiga, langsung post-test, dilanjut dengan ujian skill. 2 kelompok dengan dr. Agus, 2 kelompok dengan dr. Isman, 2 kelompok dengan dr. Setyo. Kelompokku lagi-lagi kebagian dengan dr. Setyo. Cukup lancar, karena kemarin kami juga berlatih dengan beliau, sehingga kami tahu apa yang beliau mau, walaupun aku dan Mas Muji sempat blocking beberapa kali... Grogi... Sebenarnya, saat makan siang, seharusnya semua sudah selesai. Tapi karena dr. Agus ada tugas lain, jadi beliau datang lebih siang, dan kami baru bisa bubar sekitar pukul 16.00 wib. Semuanya lulus dan dapat sertifikat, walaupun di sela-sela ujian Megacode tadi, ada beberapa orang yang dipanggil untuk melakukan post-test ulang. Tapi syukur Alhamdulillah aku tidak termasuk..

Kesan yang kudapat, kursus ini sudah cukup keren, walaupun masih "dipaksakan". Kalau mendengar cerita-cerita dari para instruktur yang pernah ACLS di luar negri, ACLS kita ini masih sangat longgar dan penuh toleransi. Di luar negri, 1 kelas hanya 15-20 peserta. Nilai pre-test minimal 85 dan post-test 96. Begitupun ujian praktek, dokter penguji kita masih sangat banyak membantu dan bertoleransi. Tapi itu bisa dimaklumi, dengan daftar antrian yang begitu panjang, ongkos kursus yang masih cukup mahal untuk ukuran dokter umum kita, mungkin penyelenggara harus melakukan berbagai hal tersebut.
Di sela-sela rehat, beberapa orang peserta ngobrol tentang ironi kehidupan dokter Indonesia. Untuk kita para dokter, hal ini mungkin klise. Dokter yang masih kurang dihargai, fenomena peserta Jamkesmas yang pakai mobil mewah, dokter di daerah yang masih kurang, mulai maraknya dokter dari luar negeri yang jadi lebih laris dibanding dokter lokal, dan lain sebagainya. Tapi, hal-hal klise seperti ini, kalau dibiarkan terus akan menjadi seperti kanker yang menggerogoti tubuh host-nya. Kalau tidak diobati, masa depan dokter kita akan suram tergerus globalisasi. Sistem dan orang-orang di dalamnya yang harus dirombak. Mengubah sudut pandang lama, menjadi visi baru yang lebih sehat, demi majunya dunia kesehatan dan kedokteran Indonesia. Dokter kita tidak kalah kok dengan dokter-dokter luar negeri.

AYO SEMANGAT!!!!! JAYALAH SELALU KEDOKTERAN INDONESIA!!!!!

Sabtu, 23 Januari 2010

Resolusi Oh Resolusi...

Tahun baru, seperti biasa, pasti ada beberapa orang yang menganut tradisi membuat daftar resolusi.. Darimana ya awal mula tradisi itu? Gak tahu juga... Sebenernya, buat orang-orang sukses, resolusi mungkin gak dibuat hanya tiap awal tahun gitu. Mungkin buat mereka, tiap hari ada resolusi baru yang harus dilakukan untuk mencapai target atau kesuksesan, karena tiap hari harus lebih baik dari hari sebelumnya. Kalau sampai sama saja, rugi namanya...
Tapi, sebagai orang kebanyakan, yang tak lepas dari sifat malas.. Sudah beberapa tahun ini aku ikut-ikut latah membuat list resolusi tahun baruku. Walaupun kalau dilihat-lihat lagi, ada beberapa hal, yang menjadi penghuni tetap list itu dari tahun ke tahun. Aku sadar sekali, itu terjadi karena kelemahanku, ketidak mampuanku melawan rasa malas yang kuat berakar dalam diriku.
Tapi... Tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, bukan? Untuk itu, dengan mengucap kata BISMILLAH... Kususun lagi list untuk tahun ini.
Tentu dengan target utama, membasmi rasa malas. Otherwise, aku akan tetap jalan di tempat seperti tahun-tahun sebelumnya, dan tak berhasil memenuhi target resolusiku.
Dan tahun ini, aku ingin menata hidupku.
Tahun ini I'm gonna be 30. Kalau jatah umurku sama dengan Rasulullah, berarti sudah hampir separuh jalanku di dunia ini. Tinggal separuh jalan lagi yang tersisa. Dan sepertinya, belum banyak yang kulakukan di masa lalu, untuk mengumpulkan bekal di kehidupan berikutnya. Malah, sepertinya, hanya menumpuk dosa.
Aku hanya berdoa, semoga jatah umurku tidak lebih pendek dari Rasulullah, agar aku sempat meng-impaskan 30 tahun yang sudah kusia-siakan.
Tahun ini pun, ada beberapa rencana besar yang ingin kulakukan. Untukku sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara dan tentu juga untuk Allah swt. Semoga Allah meridhoi niat baikku ini, membimbing jalanku, menunjukiku jalan yang benar, memberiku kekuatan super untuk menjalaninya dan melawan rasa malas, menunjukkan jalan keluar di setiap masalahku, memberiku kekuatan untuk melangkah...
Amiiinnn...

Senin, 18 Januari 2010

Kangen

Wuah, sudah lama juga ya gak posting.. Susdokbang, alias Flight Surgeon Course.. Dari bulan Juli sampe Oktober kemaren. Pengalaman yang cukup asik. Menimba ilmu baru, pengetahuan dan ketrampilan baru plus teman-teman & kenalan baru tentunya. Semakin sadar, walaupun jadi dokter TNI AU, tapi masih sangaaaaatttt sedikit pengetahuan tentang kesehatan penerbangan..

Pengennya sih kutulis semua kegiatan dan pengalaman seru selama 4 bulan itu, tapi takutnya ntar malah membebeberkan rahasia negara tanpa sengaja.. Jadi, sebagian saja ya, yang menurutku paling berkesan..

Peserta kursus ini ada dari 3 angkatan (AD, AL & AU tentunya), plus beberapa orang dokter dari Departemen Perhubungan Udara. Karena pendidikan dilaksanakan oleh dan di instansi militer, tentu tak lepas dari suasana militer. Jadi, peserta dari luar TNI "terpaksa" menyesuaikan. Banyak kejadian lucu jadinya. Mulai dari masa orientasi, mereka diperkenalkan pada pakaian loreng lengkap dengan atributnya, yang masih jelas dalam ingatanku, betapa berat dan umeknya dulu waktu aku sendiri pertama kali memakai perlengkapan itu. Mereka juga diperkenalkan pada "sikap patah-patah", PBB (walaupun dulu mereka juga sempat mengalaminya waktu Prajab/Latsarmil), dan cara berbicara a'la militer. Tapi aku sangat salut pada mereka. Kekuatan fisiknya tidak kalah dengan militer "asli", bahkan sampai melebihi (terutama aku, yang lemah ini). Dan mereka sangat cepat menyesuaikan diri.

Berlanjut dengan pelajaran-pelajaran, dengan jadwal yang cukup padat, materi yang banyak, dalam waktu yang sedemikian, plus beberapa materi baru di bidang kesehatan penerbangan, membuat kami "tergopoh-gopoh". Aku saja yang asli AU, merasa kewalahan, apalagi yang dari matra lain (Darat dan Laut). Mereka terbiasa dengan doktrin dari matra mereka, terutama Laut, yang bertolak belakang dengan udara, pasti cukup merepotkan. Tapi mereka juga hebat, bisa bekerja keras dan cepat menyesuaikan. Ujian-ujian, tugas-tugas, karya tulis, semua kami laksanakan dan kami lewati dengan "suka cita". Pelajaran dan materi baru yang sangat berkesan di benakku adalah SDO (Spatial Disorientation). Aku baru tahu, ada fenomena seperti itu di dunia ini. Dan sempat bertanya-tanya, kenapa ya Allah menciptakan hal seperti itu? Mungkin untuk menyadarkan kita kali ya, bahwa kita cuma manusia, punya banyak kelemahan, jadi jangan sombong..

Beberapa kegiatan yang pasti dianggap berkesan oleh semua siswa adalah SAR & survival, dan Flight Familiarization. Walaupun Survival cuma 3 hari, hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan survival Komando atau Wanadri, tapi cukup dapat mengenalkan kami pada kehidupan hutan. Dinginnya udara pegunungan, ditambah hujan, cukup membuat beberapa orang (termasuk aku) jadi "usreg" dan gak bisa tidur di malam hari. Bener-bener menusuk tulang. Penyebrangan dan membalik perahu karet, cukup menyenangkan. Dan yang keluar sebagai peserta terbaik SAR & survival waktu itu adalah dr. Yuliana, dari Departemen Perhubungan. Menyisihkan peserta lain, termasuk para pria dari militer.. Tapi semangatnya memang luar biasa. Tidak hanya menyemangati diri sendiri, tapi bikin orang-orang di sekitarnya ikutan semnagat. Mbak Yuli Te O Pe Be Ge Te deh...

Dan pengenalan pada dunia penerbangan (khususnya pesawat tempur), cukup bikin kita semua H2C (harap-harap cemas). 2 hari di Madiun dan 2 hari di Jogja, terbang dengan F-16, Hawk, Tiger dan Charlie, berkenalan dengan gaya G yang sebenarnya, motion sickness, udara tekanan rendah.. Membayangkan bahwa hal-hal itulah yang dialami oleh para pilot disana setiap harinya.. Aku pribadi jadi maklum akan sikap mereka, dan "keistimewaan" yang mereka dapatkan di luar. Mereka pantas mendapatkannya. Dengan segala risiko yang mereka tanggung, mempertaruhkan nyawa mereka setiap saat, "bermain-main" di lingkungan yang tidak fisiologis buat mereka...
Aku jadi ingat lagi, waktu aku muda dulu, aku sempat bercita-cita jadi pilot, karena ingin terbang keliling dunia. Tak pernah terbayang, betapa beratnya jadi seperti mereka.. Pasti Allah tahu aku tak akan sanggup. Buktinya, aku muntah... Hehehe...

Tapi sayangnya, bagiku, kursus ini berakhir dengan duka. Prestasi akademisku, adalah yang terburuk sepanjang sejarah hidup kemiliteranku (ciee... kayak udah berkecimpung berapa puluh tahun aja). Padahal menurutku nilai-nilaiku gak jelek-jelek amat. Buktinya, aku gak pernah her. Tapi memang aku pasif sih.. Dan pasti para instruktur/guru, lebih bisa melihat berbagai kekuranganku, nevermind.. Anggap saja sebagai pemacu, agar next time jangan terlalu pasif lagi, dan belajarlah lebih keras!!!