Rabu, 27 November 2013

Dokter Adalah Dewa...

Dokter adalah dewa.
Dia tidak boleh salah, tidak boleh lupa, tidak boleh khilaf, tidak boleh lelah, tidak boleh marah, tidak boleh menuntut.

Dia harus selalu ada setiap kali dibutuhkan. Tidak perduli orangtuanya sendiri sedang kritis di Rumah Sakit karena serangan jantung atau stroke. Tidak perduli anaknya sedang diare, muntah-muntah dan dehidrasi. Tidak perduli suaminya baru kecelakaan, atau istrinya baru keguguran. Setiap kali ada telepon dari rumah sakit atau pasiennya, dia harus selalu ada dan siap membantu saat itu juga. Tidak perduli dia baru selesai jaga 24 jam, dia tetap harus melayani pasien dengan ramah, baik dan benar.

Dia tidak boleh keliru dalam mendiagnosa. Walaupun misalnya demam itu ada berjuta-juta kemungkinan diagnosanya, sesak nafas itu ada ratusan kemungkinan penyebabnya, penurunan kesadaran itu ada ribuan kausanya, tapi dokter harus tahu pasti mana yang sedang dia hadapi dan apa yang harus dia lakukan. Walaupun perjalanan penyakit itu hari ini bisa seperti ini, dan berubah jadi sesuatu yang berbeda keesokan harinya, dia juga tidak boleh keliru memikirkan kemungkinannya. Walaupun manifestasi klinis satu penyakit yang sama, bisa bermacam-macam pada orang yang berbeda, dia juga tidak boleh salah dalam hal itu. Dia harus selalu tahu. 5-7 tahun pendidikan dokter umum ditambah 4-5 tahun pendidikan spesialis harusnya sudah bisa membuat seorang dokter mengetahui segala macam penyakit di muka bumi ini dan manifestasinya pada miliaran macam penduduk bumi yang bermacam-macam ini. Dia tidak boleh pernah lupa sedikitpun apa-apa yang sudah pernah dia ketahui dari ratusan textbook yang pernah dia baca.

Dia tidak boleh menggerutu walaupun pasien datang jam 2 atau 3 pagi ke UGD hanya karena batuk pilek. Dia tidak boleh kesal meskipun keluarga pasien mengomelinya dan memperlakukannya dengan  tidak menyenangkan, karena mereka harus selalu mengalah, pasien datang dalam keadaan sakit, tidak nyaman, ingin pertolongan, jadi dia harus selalu siap setiap saat dengan wajah ramah, sikap yang hangat dan sabar sepanjang masa.

Dia harus bisa meramal. Apakah seorang pasien akan sembuh, menderita efek samping dari obat yang diberikan, atau mengalami komplikasi. Dia harus tahu itu semua.
Dia tidak boleh menuntut. Walaupun imbalannya cuma 2000/pasien, atau 2 juta rupiah perbulan dengan jam kerja tanpa batas dan tak kenal lelah. Dia harus terima itu semua.
Dia sudah memilih jadi dokter, dia harus siap dengan segala konsekuensinya. Kalau tidak, ya berhenti saja jadi dokter.

*****

Semoga pendidikan dokter di dunia ini bisa gratis, jadi semua orang bisa belajar medis, jadi bisa merasakan bagaimana jadi kami... Tidak asal bicara, menyalahkan dan menuntut. Amin.