Jumat, 30 April 2010

Experience (really) is the best teacher

Sungguh, pengalaman itu guru yang sangat berharga. Walaupun kita termasuk golongan orang yang mudah lupa, sulit menyerap pelajaran selama di sekolah, susah memahami hal-hal yang kita baca dari buku, tapi kalau pelajaran yang diberikan oleh sang pengalaman, insyaAllah tidak akan lupa seumur hidup.

Dulu saya pikir saya hanya ditakdirkan untuk menjalani hidup yang datar-datar saja. Keluarga yang normal, sekolah yang normal, teman-teman yang normal, karir yang normal, semua biasa-biasa saja. Tapi belakangan tidak lagi. Banyak hal yang terjadi, yang tidak lagi bisa disebut "biasa-biasa saja". Baik itu hal pribadi, kehidupan sosial, maupun pekerjaan. Mungkin semua itu sekaligus sebagai sentilan buat saya, agar tidak lengah dan kehilangan kewaspadaan. Agar saya berubah jadi orang yang lebih baik dalam segala hal. Agar saya taubat, dan kembali ke jalan yang benar.

Pepatah bilang, orang yang sempit nalarnya, akan mengambil pelajaran dari hal-hal yang dialaminya sendiri. Namun orang yang luas wawasannya, cukup memetik hikmah dari pengalaman yang dialami orang lain. Semoga semua yang saya alami, bisa jadi bahan renungan dan diambil hikmahnya oleh orang lain, sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama. Termasuk saya sendiri, semoga tidak terulang pada anak keturunan saya kelak.

Saya menyesal saya bukan termasuk orang yang supel, aktif, dan memiliki pergaulan yang luas. Saya tidak suka bicara. Akibatnya, ketika Allah swt. menakdirkan saya menjadi dokter dan menjadi tentara (dimana keduanya diwajibkan memiliki kemampuan komunikasi yang handal), saya jadi sangat mengalami kesulitan. Bahkan dalam kehidupan sosial pun saya juga mengalami kesulitan karena saya kurang bahan pembicaraan setip kali berkumpul dengan saudara maupun rekan-rekan lain. Akibatnya saya jadi minder, dan makin malas bersosialisasi. Saya dididik secara otoriter, akibatnya saya tidak kreatif dan kurang inisiatif. Hanya melakukan apa yang diperintahkan secara langsung saja. Tidak memahami apa yang tersirat. Saya kurang aktif berorganisasi waktu sekolah, akibatnya saya buta manajemen. Bekal agama saya kurang kuat, akibatnya saya sering tergelincir dan terjatuh. Kesalahan, kekurangan dan kelemahan saya sangat saya sesalkan. Karena sebenarnya semua itu bisa dicegah dan diubah. Namun penyesalan selalu datang terlambat. Ada beberapa hal, yang tak dapat lagi saya ubah.

Sampai sekarangpun, banyak kejadian-kejadian yang telah memberi saya pelajaran. Memacu saya agar belajar lagi,lebih berhati-hati dan lebih perhatian lagi terhadap pasien, maupun terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar saya. Jangan terlalu mengandalakan insting dan keberuntungan lagi. Lebih hati-hati dan teliti dalam menilai. Jangan terburu-buru dan meremehkan setiap hal yang nampaknya biasa saja. Lebih berempati pada penderitaan orang lain. Jangan melupakan sedikitpun prosedur, sekecil apapun itu. Rasanya sekarang masih ada perlindungan Allah swt. Tapi lama kelamaan, kalau itu terus terjadi, bukan tak mungkin bisa terjadi apa yang saya takutkan selama ini. Naudzubillah min dzalik.

Pokoknya, intinya, keep learning, jangan malas, kalau perlu setiap ada kesempatan, diulang-ulang lagi, biar tidak lupa. Lebih aktif lagi, bersosialisasi lagi, jangan malaaaasssss.....