Baru saja saya mengikuti kursus bantuan hidup jantung lanjut (Advance Cardiac Live Support) yang diadakan oleh PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. Setelah 3 tahun berkecimpung di UGD, baru sekarang ACLS, menyesal juga kenapa gak dari dulu. Tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar, bukan? Mudah-mudahan Allah swt memberi saya rizki yang lebih, sehingga saya bisa segera mengikuti kursus-kursus lain yang saya perlukan, seperti ATLS, ANLS, FCCS, dll, sehingga kompetensi saya lebih mantap lagi. Amin...
Kursus yang saya ikuti kemarin dilaksanakan di PERKI House, daerah Benhil Jakarta, selama 3 hari (12-14 Maret). Dibagi menjadi 2 kelas, tiap kelas terdiri dari sekitar 30 orang. Peserta cukup beragam, mulai dokter yang baru lulus sampai yang sudah spesialis juga ada. Lulusan FK swasta maupun Negeri. Yang sudah PNS ataupun "pengangguran".
Hari pertama diawali dengan pre-test, sekitar 40 soal multiple choice, tentang pengetahuan dasar ACLS. Selnjutnya, langsung diisi dengan kuliah tentang Bantuan Hidup Dasar, ACLS, EKG dan Airway. Disampaikan oleh para ahli di bidangnya dengan cara yang menurut saya cukup menarik dan "nyanthol". Jadi bisa membuka mata, dan berpikir, selama ini kemana saja?
Sorenya, langsung ada skill station, BHD, Airway dan Electricity. Untuk BHD, mungkin sudah biasa, hanya RJP pada dummy, sendiri maupun 2 penolong, dengan perbandingan 30:2. Fasilitas yang diberikan cukup memadai, dummy masih cukup baru, 1 dummy : 1-2 peserta.
Di station airway, dummy hanya 1 buah untuk latihan intubasi. Kurang memadai, karena tiap peserta hanya berkesempatan 1 kali mencoba dengan pengawasan 1 orang instruktur yang sibuk dengan hp-nya. Untungnya, setelah kelas bubar, dan esok harinya, peserta diijinkan untuk berlatih lagi sendiri.
Di station electricity, peserta diberi pengenalan dan latihan electric shock, baik itu defibrilasi, maupun kardioversi. Buat saya pribadi, itu pertama kalinya saya melihat langsung, memegang dan mengoperasikan sebuah DC shock. Saya jadi pengen beli sendiri, karena di UGD saya masih belum ada...
Hari pertama berakhir pada pukul 18.00 wib.
Hari kedua, dilanjut dengan kuliah kelainan-kelainan EKG pada ACLS yang belum dismpaikan kemarin, kuliah farmakologi, dan latihan Megacode. Kelas dibagi menjadi 6 kelompok kecil, tiap kelompok 4-5 orang (karena ada peserta yang tidak hadir). Kelompok-kelompok kecil tersebut dibagi menjadi 2 kelas, dibawah instruktur yang berbeda. Tiap kelompok maju satu persatu, diberikan sebuah kasus multiple algorythm, dan kami harus menyelesaikannya secara tim. Seorang berperan sebagai kapten (dokter), seorang berperan di airway, seorang di kompresi dada, seorang sebagai tenaga yang memasukkan obat pada pasien, dan seorang lagi sebagai pencatat. Semua bekerja, semua dinilai. Gambaran EKG diberikan dari laptop instruktur yang dihubungkan dengan alat DC shock, kapten harus dapat menilai kelainan EKG apakah yang ada di monitor, memutuskan apa yang harus dilakukan tahap demi tahap, dan memerintahkan pada para pembantunya yang ada disana. Menurut saya, kelompok saya cukup solid dan menyenangkan. Tidak ada yang "lag" terlalu parah. dr. Manuel, Mas Muji, Komang, Natalie, kalian keren... :) Hari kedua berakhir pada pukul 16.00.
Hari ketiga, langsung post-test, dilanjut dengan ujian skill. 2 kelompok dengan dr. Agus, 2 kelompok dengan dr. Isman, 2 kelompok dengan dr. Setyo. Kelompokku lagi-lagi kebagian dengan dr. Setyo. Cukup lancar, karena kemarin kami juga berlatih dengan beliau, sehingga kami tahu apa yang beliau mau, walaupun aku dan Mas Muji sempat blocking beberapa kali... Grogi... Sebenarnya, saat makan siang, seharusnya semua sudah selesai. Tapi karena dr. Agus ada tugas lain, jadi beliau datang lebih siang, dan kami baru bisa bubar sekitar pukul 16.00 wib. Semuanya lulus dan dapat sertifikat, walaupun di sela-sela ujian Megacode tadi, ada beberapa orang yang dipanggil untuk melakukan post-test ulang. Tapi syukur Alhamdulillah aku tidak termasuk..
Kesan yang kudapat, kursus ini sudah cukup keren, walaupun masih "dipaksakan". Kalau mendengar cerita-cerita dari para instruktur yang pernah ACLS di luar negri, ACLS kita ini masih sangat longgar dan penuh toleransi. Di luar negri, 1 kelas hanya 15-20 peserta. Nilai pre-test minimal 85 dan post-test 96. Begitupun ujian praktek, dokter penguji kita masih sangat banyak membantu dan bertoleransi. Tapi itu bisa dimaklumi, dengan daftar antrian yang begitu panjang, ongkos kursus yang masih cukup mahal untuk ukuran dokter umum kita, mungkin penyelenggara harus melakukan berbagai hal tersebut.
Di sela-sela rehat, beberapa orang peserta ngobrol tentang ironi kehidupan dokter Indonesia. Untuk kita para dokter, hal ini mungkin klise. Dokter yang masih kurang dihargai, fenomena peserta Jamkesmas yang pakai mobil mewah, dokter di daerah yang masih kurang, mulai maraknya dokter dari luar negeri yang jadi lebih laris dibanding dokter lokal, dan lain sebagainya. Tapi, hal-hal klise seperti ini, kalau dibiarkan terus akan menjadi seperti kanker yang menggerogoti tubuh host-nya. Kalau tidak diobati, masa depan dokter kita akan suram tergerus globalisasi. Sistem dan orang-orang di dalamnya yang harus dirombak. Mengubah sudut pandang lama, menjadi visi baru yang lebih sehat, demi majunya dunia kesehatan dan kedokteran Indonesia. Dokter kita tidak kalah kok dengan dokter-dokter luar negeri.
AYO SEMANGAT!!!!! JAYALAH SELALU KEDOKTERAN INDONESIA!!!!!