Sabtu, 23 Januari 2010

Resolusi Oh Resolusi...

Tahun baru, seperti biasa, pasti ada beberapa orang yang menganut tradisi membuat daftar resolusi.. Darimana ya awal mula tradisi itu? Gak tahu juga... Sebenernya, buat orang-orang sukses, resolusi mungkin gak dibuat hanya tiap awal tahun gitu. Mungkin buat mereka, tiap hari ada resolusi baru yang harus dilakukan untuk mencapai target atau kesuksesan, karena tiap hari harus lebih baik dari hari sebelumnya. Kalau sampai sama saja, rugi namanya...
Tapi, sebagai orang kebanyakan, yang tak lepas dari sifat malas.. Sudah beberapa tahun ini aku ikut-ikut latah membuat list resolusi tahun baruku. Walaupun kalau dilihat-lihat lagi, ada beberapa hal, yang menjadi penghuni tetap list itu dari tahun ke tahun. Aku sadar sekali, itu terjadi karena kelemahanku, ketidak mampuanku melawan rasa malas yang kuat berakar dalam diriku.
Tapi... Tak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik, bukan? Untuk itu, dengan mengucap kata BISMILLAH... Kususun lagi list untuk tahun ini.
Tentu dengan target utama, membasmi rasa malas. Otherwise, aku akan tetap jalan di tempat seperti tahun-tahun sebelumnya, dan tak berhasil memenuhi target resolusiku.
Dan tahun ini, aku ingin menata hidupku.
Tahun ini I'm gonna be 30. Kalau jatah umurku sama dengan Rasulullah, berarti sudah hampir separuh jalanku di dunia ini. Tinggal separuh jalan lagi yang tersisa. Dan sepertinya, belum banyak yang kulakukan di masa lalu, untuk mengumpulkan bekal di kehidupan berikutnya. Malah, sepertinya, hanya menumpuk dosa.
Aku hanya berdoa, semoga jatah umurku tidak lebih pendek dari Rasulullah, agar aku sempat meng-impaskan 30 tahun yang sudah kusia-siakan.
Tahun ini pun, ada beberapa rencana besar yang ingin kulakukan. Untukku sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara dan tentu juga untuk Allah swt. Semoga Allah meridhoi niat baikku ini, membimbing jalanku, menunjukiku jalan yang benar, memberiku kekuatan super untuk menjalaninya dan melawan rasa malas, menunjukkan jalan keluar di setiap masalahku, memberiku kekuatan untuk melangkah...
Amiiinnn...

Senin, 18 Januari 2010

Kangen

Wuah, sudah lama juga ya gak posting.. Susdokbang, alias Flight Surgeon Course.. Dari bulan Juli sampe Oktober kemaren. Pengalaman yang cukup asik. Menimba ilmu baru, pengetahuan dan ketrampilan baru plus teman-teman & kenalan baru tentunya. Semakin sadar, walaupun jadi dokter TNI AU, tapi masih sangaaaaatttt sedikit pengetahuan tentang kesehatan penerbangan..

Pengennya sih kutulis semua kegiatan dan pengalaman seru selama 4 bulan itu, tapi takutnya ntar malah membebeberkan rahasia negara tanpa sengaja.. Jadi, sebagian saja ya, yang menurutku paling berkesan..

Peserta kursus ini ada dari 3 angkatan (AD, AL & AU tentunya), plus beberapa orang dokter dari Departemen Perhubungan Udara. Karena pendidikan dilaksanakan oleh dan di instansi militer, tentu tak lepas dari suasana militer. Jadi, peserta dari luar TNI "terpaksa" menyesuaikan. Banyak kejadian lucu jadinya. Mulai dari masa orientasi, mereka diperkenalkan pada pakaian loreng lengkap dengan atributnya, yang masih jelas dalam ingatanku, betapa berat dan umeknya dulu waktu aku sendiri pertama kali memakai perlengkapan itu. Mereka juga diperkenalkan pada "sikap patah-patah", PBB (walaupun dulu mereka juga sempat mengalaminya waktu Prajab/Latsarmil), dan cara berbicara a'la militer. Tapi aku sangat salut pada mereka. Kekuatan fisiknya tidak kalah dengan militer "asli", bahkan sampai melebihi (terutama aku, yang lemah ini). Dan mereka sangat cepat menyesuaikan diri.

Berlanjut dengan pelajaran-pelajaran, dengan jadwal yang cukup padat, materi yang banyak, dalam waktu yang sedemikian, plus beberapa materi baru di bidang kesehatan penerbangan, membuat kami "tergopoh-gopoh". Aku saja yang asli AU, merasa kewalahan, apalagi yang dari matra lain (Darat dan Laut). Mereka terbiasa dengan doktrin dari matra mereka, terutama Laut, yang bertolak belakang dengan udara, pasti cukup merepotkan. Tapi mereka juga hebat, bisa bekerja keras dan cepat menyesuaikan. Ujian-ujian, tugas-tugas, karya tulis, semua kami laksanakan dan kami lewati dengan "suka cita". Pelajaran dan materi baru yang sangat berkesan di benakku adalah SDO (Spatial Disorientation). Aku baru tahu, ada fenomena seperti itu di dunia ini. Dan sempat bertanya-tanya, kenapa ya Allah menciptakan hal seperti itu? Mungkin untuk menyadarkan kita kali ya, bahwa kita cuma manusia, punya banyak kelemahan, jadi jangan sombong..

Beberapa kegiatan yang pasti dianggap berkesan oleh semua siswa adalah SAR & survival, dan Flight Familiarization. Walaupun Survival cuma 3 hari, hanya seujung kuku bila dibandingkan dengan survival Komando atau Wanadri, tapi cukup dapat mengenalkan kami pada kehidupan hutan. Dinginnya udara pegunungan, ditambah hujan, cukup membuat beberapa orang (termasuk aku) jadi "usreg" dan gak bisa tidur di malam hari. Bener-bener menusuk tulang. Penyebrangan dan membalik perahu karet, cukup menyenangkan. Dan yang keluar sebagai peserta terbaik SAR & survival waktu itu adalah dr. Yuliana, dari Departemen Perhubungan. Menyisihkan peserta lain, termasuk para pria dari militer.. Tapi semangatnya memang luar biasa. Tidak hanya menyemangati diri sendiri, tapi bikin orang-orang di sekitarnya ikutan semnagat. Mbak Yuli Te O Pe Be Ge Te deh...

Dan pengenalan pada dunia penerbangan (khususnya pesawat tempur), cukup bikin kita semua H2C (harap-harap cemas). 2 hari di Madiun dan 2 hari di Jogja, terbang dengan F-16, Hawk, Tiger dan Charlie, berkenalan dengan gaya G yang sebenarnya, motion sickness, udara tekanan rendah.. Membayangkan bahwa hal-hal itulah yang dialami oleh para pilot disana setiap harinya.. Aku pribadi jadi maklum akan sikap mereka, dan "keistimewaan" yang mereka dapatkan di luar. Mereka pantas mendapatkannya. Dengan segala risiko yang mereka tanggung, mempertaruhkan nyawa mereka setiap saat, "bermain-main" di lingkungan yang tidak fisiologis buat mereka...
Aku jadi ingat lagi, waktu aku muda dulu, aku sempat bercita-cita jadi pilot, karena ingin terbang keliling dunia. Tak pernah terbayang, betapa beratnya jadi seperti mereka.. Pasti Allah tahu aku tak akan sanggup. Buktinya, aku muntah... Hehehe...

Tapi sayangnya, bagiku, kursus ini berakhir dengan duka. Prestasi akademisku, adalah yang terburuk sepanjang sejarah hidup kemiliteranku (ciee... kayak udah berkecimpung berapa puluh tahun aja). Padahal menurutku nilai-nilaiku gak jelek-jelek amat. Buktinya, aku gak pernah her. Tapi memang aku pasif sih.. Dan pasti para instruktur/guru, lebih bisa melihat berbagai kekuranganku, nevermind.. Anggap saja sebagai pemacu, agar next time jangan terlalu pasif lagi, dan belajarlah lebih keras!!!