Minggu, 14 Juni 2009

B U N D A . . .

I LOVE U MOM.

Waktu kamu berumur 1 tahun,
dia menyuapi dan memandikanmu. ...sebagai balasannya.. ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
sebagai balasannya.. . kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang.... sebagai balasannya.. . kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna...
sebagai balasannya.. . kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah….
sebagai balasannya.. . kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun,dia mengantarmu pergi ke sekolah...
sebagai balasannya. .. kamu berteriak, "NGGAK MAU....!"

Waktu berumur 7 tahun,dia membelikanmu bola.... sebagai balasannya kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun,dia memberimu es krim... sebagai balasannya.. .kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu sebagai balasannya ... kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun,dia mengantarmu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ... sebagai balasannya ..... kamu melompat keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan temen-temen kamu kebioskop…. sebagai balasannya.. . kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun,dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa... sebagai balasannya.. .. kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya. Sebagai balasannya…. kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun,dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan... sebagai balasannya.. . kamu nggak pernah menelponnya.

Waktu kamu berumur 15 tahun,pulang kerja dia ingin memelukmu... .
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun,dia mengajari kamu mengemudi mobil...
sebagai balasannya.. .. kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun,dia sedang menunggu telpon yang penting... sebagai balasannya.. . kamu pakai telpon nonstop semalaman,

waktu kamu berumur 18 tahun,dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA…. sebagai balasannya.. . kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama... sebagai balasannya.. . kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun, dia bertanya, "Darimana saja seharian ini?"….
sebagai balasannya.. . kamu menjawab, "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun,dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu... sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun,dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi .. sebagai balasanmu .... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun,dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu ... sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun,dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ... sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun,dia membantumu membiayai pernikahanmu. ... sebagai balasannya ... kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun,dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun , dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu .. sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali, nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu ... sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang ... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam

MAKA...
JIKA ORANG TUAMU MASIH ADA... BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

I LOVE U MOTHER

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu dari Seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.
Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu. si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya.

OngKos upah membantu ibu:
1) Membantu Pergi Ke Warung: Rp20.000
2) Menjaga adik Rp20.000
3) Membuang sampah Rp5.000
4) Membereskan Tempat Tidur Rp10.000
5) menyiram bunga Rp15.000
6) Menyapu Halaman Rp15.000
Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anakyang raut mukanya berbinar- binar.
Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

1) OngKos mengandungmu selama 9 bulan - GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu -GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu - GRATIS
4) OngKos Khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu - GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu - GRATIS
6) OngKos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu - GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anakmenatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yangditulisnya: "Telah Dibayar".

Taken from Dandel's note

Wounded..

Got a li'l bit distracted, disoriented and disorganized..
Suddenly remember my dark past. It always come to me and haunting me for years. Terrible sins I have done.. Make bitter tears run down my wounded heart.

Lord give me strength..

Give me answers, clues and solutions to get thru these all.
Is this really my destiny? The destiny You have written upon my life path? Or is it just my foolishness?
If this is Your decision for me, why does it still hurt?

Lord forgive me..

Without Your mercy, I definitely will be torn apart, falling into pieces.
I want to get back to You. Please.. Please give me strength. I want to love You only.. 'Coz I'm sure, You won't let me down. You would never disappoint me. You wuld never hurt me as Your creations have done on each other.

I know I don't deserve it.

But what would I be without You..

Iseng..

Tahun ini kita pesta demokrasi lagi. Pilleg sudah lewat, walaupun dengan berbagai kekurangan dan carut marutnya pelaksanaan yang ada. Pilpres is right ahead.
Thankfully, I'm legally golput.. Jadi gak perlu pusing berpartisipasi. Cukup jadi pengamat, komentator, dan pendukung saja. Tapi gak ada salahnya iseng ngoceh juga kan?

Musim kampanye, rakyat makmur. Para calon berebut simpati rakyat, pendekatan, sumbang ini, ngasih itu, janji ini, janji itu. Walaupun cuma sebentar, lumayan lah, rakyat kecil diperhatikan. Tapi rakyat sekarang sudah pada pinter kok. Tahu kalo dikibulin. Janji-janji yang sulit ditepati, jadi rakyat juga aji mumpung. Mumpung diperhatikan, ambil aja. Masalah nanti mau pilih siapa, kan gak ada yang tahu.

Terserah lah, siapa yang bakal jadi pemenang nanti. Mudah-mudahan bangsa Indonesia bisa jadi lebih aman, damai, makmur, sejahtera, maju, bersih, pokoknya yang baik-baik lah... Amin.
Yang sering jadi pertanyaan di hati, kok orang-orang itu pada rebutan kekuasaan jadi pemimpin ya? Padahal enaknya cuma sebentar, begitu lengser biasanya lantas jadi tersangka koruptor. Belum lagi hisabnya di alam baka nanti. Pasti berat sekali kan mempertanggung jawabkan amanah sebagai pemimpin bangsa dan negara besar ini? Apa mereka gak takut ya? Iya kalo sudah dijamin surga kayak Rasulullah gitu. Lha ini? Mempertanggung jawabkan hidupnya sendiri saja belum tentu lolos kok, apalagi mempertanggung jawabkan hidup ratusan juta orang yang diamanahkan untuk dipimpin? Apa gak takut kalo ditanya, apa yang sudah dilakukan untuk meringankan beban hidup rakyatnya yang miskin dan menderita? Apa dia sudah berjalan keliling negaranya, mendengar setiap keluh kesah rakyatnya, memanggul beras untuk diberikan pada rakyatnya yang kelaparan seperti yang sudah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab?
Apa yang sudah dilakukan untuk membasmi prostitusi? Apa yang sudah dilakukan untuk jadi pemimpin yang adil? Sudahkah setiap warga negaranya mendapatkan keadilan? Wuah... Kalo saya sih gak kebayang..

Tapi kita doakan saja lah..

Oya, beberapa hari yang lalu saya nonton Chat Club di MetroTV. Topiknya tentang inovasi-inovasi Kabupaten Jembrana. Kueren banget sih? Dulu saya sudah pernah dengar tentang salah satu kabupaten di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, yang menggratiskan biaya berobat buat warganya. Tapi ternyata ada yang lebih keren dari itu. Bupati Jembrana berhasil memajukan daerahnya dengan pemerintahan yang berbasis IT. Bapak Bupatinya memang seorang Profesor. Tapi beliau bilang, kalau kita mau, pasti bisa. Padahal Jembrana bukan daerah yang kaya. Beliau bahkan bilang tidak punya kekayaan alam sama sekali. Tapi jumlah rakyat miskin bisa cuma 5%, padahal di daerah-daerah lain di Indonesia rata-rata 20%. Hebat kan? Trus KTP (Jembrana Identitas Diri - JID), bisa dipakai sebagai kartu jaminan kesehatan, kartu debit, kartu pemilih, dan saya lupa bisa dipakai apa lagi. Intinya, tujuan akhirnya nanti satu kartu itu bisa buat segala keperluan. Keren kan? Gak menuh-menuhin dompet. Trus lagi, pendidikan disana gratis sampe SMA, trus ada beasiswa Rp 500.000 untuk tingkat perguruan tinggi, di perguruan tinggi manapun. Terakhir, pilkada disana kemaren sudah pake sistem itu juga (gak tahu apa namanya, soalnya saya gaptek juga.. :p). Cukup KTP. Hebat kan? Gak ribut-ribut DPT lagi. Trus mereka juga gak membebani rakyat ataupun minta anggaran lebih dari atas untuk mengadakan "kekerenan" itu. Mereka cuma memaksimalkan anggaran yang sudah ada saja. Seandainya semua Kabupaten bisa seperti itu, wah, saya yakin maju Indonesia ini. Mbok ya, para pemimpin lain itu dibuka matanya, jangan cuma sibuk rebutan kekuasaan dan memperkaya diri sendiri saja.

Indonesia ini bangsa yang besar. Besar jumlah penduduknya, besar wilayahnya, besar kekayaan alamnya, besar potensinya. Sumber daya manusia juga buanyaakkk yang berkualitas. Kebesaran kita nomor 4 di dunia, setelah Cina, India dan Amerika. Kalau kita mau sedikit berusaha lagi, kita bisa kok jadi negara adikuasa juga. Negara-negara lain dijamin takut dan segan sama kita. Gak diobok-obok kayak sekarang ini. Seandainya sistem bisa berjalan lurus dan mulus, koruptor dibasmi, wuah... Kapan ya?

A little this.. And a little that..

Wah, sekarang kayaknya harus lebih hati-hati lagi dalam ber-curhat ya? Waspada jebakan "off-side" dari UU IT. Padahal judul blog-nya saja sudah mycurhat.. Gimana dong?
Kok jadi kayak jaman orde baru aja, pake bungkam-bungkaman. Padahal yang mustinya dibungkam itu kan yang nyebarin foto-foto dan video porno, memasarkan seks, dan segala macam yang merusak akhlak gitu.. Tapi malah bu Prita yang duluan kena.

Padahal bu Prita itu kan cuma salah satu dari sekian banyak masyarakat yang mengalami nasib serupa. Ada yang kemudian curhat lewat surat pembaca, per oral ke teman-teman yang lain, dan kebetulan bu Prita bisa main internet, jadi curhatnya lewat e-mail. Lha kok malah apes...

Sudah ada dalam undang-undang kesehatan kan, tentang hak dan kewajiban dan hak pasien, kewajiban dan hak dokter, sebenernya beliau kan cuma mengungkapkan kekecewaan karena haknya yang tidak semuanya terpenuhi, yaitu untuk mendapatkan informasi rekam medisnya. Padahal semua orang juga tahu bahwa isi dari rekam medis itu memang jadi hak pasien.

Saya tidak bermaksud berpihak pada salah satu sisi. Sebagai sesama sejawat penyedia pelayanan kesehatan, saya juga sering dipusingkan dan diuji kesabaran saya oleh para pengguna jasa. Sering juga pertanyaan-pertanyaan mereka tak terjawab oleh keterbatasan saya. Jujur, kadang ego diri bahwa dokter masih lebih tinggi dari pasien dan profesi-profesi lain yang berkaitan, masih ada. Sehingga sering menggoda saya untuk sakit hati dan ingin berucap, "Hey, I'm the doctor here, so just shut up, don't question my decision, and just do what I've told you! I know better than you 'coz I'm the one who took Med School.."
Tapi itu kan gak berlaku lagi hari gini. Dokter sudah bukan dewa lagi. Tapi susah juga mengubah hal itu.

Tapi apapun itu, kan bukan jadi alasan untuk memenjarakan semua orang yang mempertanyakan kebijakan kita. Saya juga tidak ingin, dan jangan sampai dituntut karena malpraktik (semoga Allah swt. melindungi kita semua). Itu seharusnya menjadi pemacu buat kita, supaya lebih banyak belajar, lebih hati-hati mengambil keputusan dan bertindak, dan lebih baik dalam bersikap menghadapi pasien dan keluarganya. Karena mereka datang pada kita dalam keadaan sedih dan kesusahan, berharap mendapatkan pertolongan, dan kita sudah diberi kelebihan oleh Allah swt. untuk dapat membantu mereka, hendaknyalah kita dapat menjalankan fungsi kita dengan sebaik-baiknya (duhh... semoga saya bisa mengingat dan bertindak sesuai dengan ocehan saya ini.. :))

Bravo Health Corps!!!

Introducing...

Wow, it's been a year since last time I posted my writing...

Bukannya gak ada bahan, tapi belum sempat. Ada kesibukan baru yang menyita sebagian besar waktuku. Kesibukan yang cukup berat, tapi menyenangkan..

I got a baby boy...






He's 6 month-old this June. He's adorable, and he has made me deeply in love, don't care 'bout anything else anymore.










Finally, after a pretty long time we've wait.. God has sent us a big gift. Dengan segala daya upaya yang kami punya, segala rintangan yang telah kami lewati, Allah swt. memberikan kepercayaan pada kami untuk mengasuh, mendidik dan membesarkan seorang anak. Bahagia, bangga, lega, bersyukur, segala rasa jadi satu. Seiring do'a yang senantiasa mengalir, semoga kami bisa menjalankan amanah besar ini dengan sebaik-baiknya. Amin..

Views ...











Pemandangan Jawa Barat.. Gak terasa, sudah setahun aku di Bandung. Tapi belum banyak tempat-tempat yang kukunjungi di Jawa Barat ini. Padahal ada banyakkk sekali obyek bagus-bagus yang layak ditengok..




3 dari sedikit tempat yang sudah kulongok ada di atas. Tangkuban Parahu, Kawah Putih dan Pangandaran. Obyek wisata dengan views yang berbeda. Yang satu gunung, yang satu lagi pantai.


I like traveling. Bahkan dulu, cita-citaku, aku pengen keliling dunia. Mengunjungi tempat-tempat cantik ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Terutama Europe. I really want to go there someday. Could it be?




Bertasbih melihat keindahan pemandangan yang gak ada seper-sezillion-nya pemandangan di surga kelak. Membayangkan dan berharap apakah mungkin bisa menikmati keindahan yang kekal bersama manusia-manusia pilihan-Nya...


Salju di pegunungan Swiss, hamparan bunga warna-warni di Belanda, padang rumput di Skotlandia, pantai indah di Itali dan Spanyol, gedung dan kota tua di Inggris, dan masih buanyakkkk lagi.

Semoga kelak bisa terwujud, dan bisa kubagi gambar-gambarnya.. Dan bersama-sama kita bertasbih dan bertakbir akan indahnya ciptaan Allah swt.

Another Curahan Hatee...

Selasa yang menyebalkan...

Susah juga jadi "average person". Pengen ikut seleksi sekolah abroad, senior ngelarang, takut kesaing. What can I do?
Pengen ikut shooting competition, cancelled. Gara-gara wara pada sibuk sama kegiatan "kewanitaannya". Not that I'm saying that those activities are useless, tapi kan banyak kegiatan lain yang lebih berguna, lebih menantang, lebih mengandung kompetisi, yang akhirnya akan meningkatkan kualitas kita-kita juga.

SEBEL !!!

Kapan kita bisa maju ya? I've been dreaming, kita punya kapal induk keren, dengan beberapa skadron pesawat tempur bersenjata betulan di atasnya. Punya pabrik senjata keren, yang litbangnya secara kontinyu mengembangkan berbagai alutsista yang canggih-canggih pula. Punya sekolah bahasa yang mencakup berbagai macam bahasa yang ada di muka bumi ini. Punya program kerja sama dengan negara-negara maju untuk pertukaran pelajar, teknologi dan informasi...
It's just a dream..

Tapi rasanya bisa, kalau kita mau berjuang. Jangan cuma mengedepankan salah satu korps. Banyak sekali SDM berkualitas di korps-korps lain. Kenapa tidak dikembangkan? AL mau mengakui kekuatan dan mengembangkan Marinirnya sampai bisa besar seperti sekarang. Bukan tak mungkin Marinir kita bisa jadi satu Kesatuan besar yang kuat dan berdiri sendiri seperti di USA sana. Tapi kenapa AU masih menganak tirikan Paskhasnya? Atau sebenarnya tidak bermaksud begitu? Ataukah AU sendiri adalah anak tiri? Bisa juga sih... Menilik jumlah personil kita yang sedemikian rupa. Dengan "wilayah kekuasaan" yang begitu luas, jumlah personel kita cuma segini, alutsista pun memprihatinkan, jadi....

Whatever lah.. I'm just a little girl yang mungkin belum dianggap pantas untuk membicarakan ini semua.
Intinya hari ini is my bad day... Gak boleh sekolah ke luar negri, gak boleh nembak, gak boleh sekolah bahasa..
Nasib.. :-((

SUDDEN DEATH

The story is all too common :

Jack, a 56 year-old civilian worker, sits in the living room watching a sitcom with his wife. Jack has not led a medically exemplary life but the heart attack he had a couple of months ago has given him an important wake-up call. “You were lucky this time, Jack,” his doctor told him. “You’ve had substantial heart damage, but the old pump is still working well enough. If you straighten up your act, you’ve got a good chance of seeing your grandbaby get married someday.” So Jack has begun a strict diet, has begun exercising under the watchful eye of local cardiac rehabilitation program, is taking all the medication his doctor has prescribed to help his heart heal and to help prevent another heart attack, and most imprtantly, has quit smoking. After only a month, he has already lost 7 kg and is jogging more than 2 km every other day. He feels better – more fit and more energetic – than he has in years. He leans back in his easy chair and smiles. “You know,” he says to his wife,” that heart attack may turn out to be one of the best things that ever happened to me.” She smiles back. “You are, no doubt, referring to the fact that you haven’t had to do a lick of housework in over a month.”
She expects a return chuckle from Jack – but all she gets is a soft gasp. She glances at her husband and is horrified by what she sees. Jack’s eyes are wide with fright, and he is gasping for air. He feebly tries to stand, but collapses to the floor. Within seconds he is unconscious, and despite his wife’s best efforts – and the efforts of the paramedics who arrive later – Jack dies.



Perhaps you have seen or heard even more tragic scenarios than that. And like most loved ones of the victims of sudden death, Jack’s wife no doubt will be told that he succumbed to a “massive heart attack” (the implication being that it was an unpredictable and unpreventable event) “and despite the best post-heart-attack treatment that medicine has to offer, well, God works in mysterious ways.”
While the sort of explanation may give some comfort to the widow – and while it may give some false comfort to the doctor as well – it is usually wrong. Most of these thousands of deaths are not due to another heart attack (that is, to another blockage of coronary artery). Instead, most are due to sudden appearance of a lethal heart arrythmia known as ventricular fibrillation. When ventricular fibrillation occurs, it usually occurs suddenly, without a shred of warning – often in mid-sentence. And unless the heart is defibrillated within a few minutes, death ensues.


Thankfully, ventricular fibrillation is an extremely rare occurrence in people with normal hearts. But in peopple who have suffered almost any form of heart muscle damage – heart attacks being by far the most common cause of heart muscle damage – ventricular fibrillation is disturbingly likely. Indeed, the more muscle damage one has sustained, the higher the risk of having sudden death from this arrythmia. And there generally are no warning signs that can tip off either the patient or their doctors that sudden death is approaching.


So, is there anything in any chance that we can do to prevent this circumstances from happening to us? Let’s start with the term of sudden death it self. Sudden death is generally considered any “natural”, unexpected death that occurs within one hour after symptoms begin. Many sudden deaths occur quite rapidly, oftentimes wihin seconds or minutes. The vast majority of sudden death is caused by heart disease, although other illnesses such as massive bleeding, strokes, and pulmonary emboli (a blood clot traveling to the lung) may also cause this problem. Sudden cardiac death frequently occurs in people with known or suspected heart disease, but it may rarely occur in people with no known cardiac abnormalities.


We will especially talk about sudden death caused by cardiac abnormalities. Sudden cardiac arrest is not a heart attack. Heart attacks occur when there is a blockage in one or more of the coronary arteries, preventing the heart from receiving enough oxygen-rich blood. If the oxygen in the blood cannot reach the heart muscle, the heart becomes damaged. In contrast, sudden cardiac arrest occurs when electrical system to the heart malfunctions and suddenly becomes very irregular. The heart beats dangerously fast. The ventricles may flutter or quiver, and blood is not delivered to the body. In the first few minutes, the greatest concern is that blood flow to the brain will be reduced so drastically that a person will lose consciousness. Death follows unless emergency treatment is begun immediately.


There are many risk factors of sudden cardiac arrest :
- Previous heart attack
- Coronary artery disease
- Ejection fraction of less than 40%, combined with ventricular tachycardia
- Prior episode of sudden cardiac arrest
- Family history of sudden cardiac arrest
- Personal or family history of certain abnormal heart rythms
- Ventricular tachycardia or ventricular fibrillation after a heart attack
- History of congenital heart defects or blood vessel abnormalities
- Hystory of syncope
- Heart failure
- Dilated cardiomyopathy
- Hypertrophic cardiomyopathy
- Significant changes in blood levels of potassium and magnesium
- Obesity
- Diabetes
- Recreational drug abuse
- Taking drugs that are “pro-arrhythmic”


If you have any of the risk factors listed above, you have to speak to your cardiologist about how to reduce your risk. Keeping regular follow-up, making certain lifestyle changes, taking medication as prescribed, and having interventional procedures or surgery, are ways you can reduce your risk. And if you still free from those risk factors, starting in your mid-to-late 30’s, take measures to prevent heart disease by doing the following :
1. Be aware of major risk factors : hypertension, high cholesterol, cigarette smoking, having family history of heart disease, and diabetes are all major risk factors that could increase your probability of having a heart attack.
2. Make a lifestyle change : think of the things that are in your power to change, like improving your diet, getting exercise, and quitting smoking. Eat 7 – 9 fruits and vegetables each day, get at least two hours of moderately intensive exercise each week.
3. Make an appointment to be evaluated : if you have a family history of heart attacks, or you think you’re at risk, spend some time with a preventive cardiologist nearby. The evaluation and blood test will reveal your HDL and LDL cholesterol, triglycerides, fasting lipid profile, blood pressure, and family history. From this checkup, the doctor will be able to determine if you need to have a non-invasive scan of your heart to look for problems, or if you need to be prescribed medication.
4. Don’t deny cardiac symptoms : if you’re experiencing shortness of breath or chest pain from exertion, get to the hospital right away.
5. Use mediacation recommended by your physician.
6. Extra : if you’re under high stress, take up meditation, yoga, tai chi, or practice any other relaxation technique for five minutes everyday. People who exercise on a regular basis, are less likely to have heart disease or die from a heart attack later in life.
Those are things you can do to modify any of risk factors you probably have. But what if you see someone experiences sudden cardiac arrest? Of course you should call for medical help. Meanwhile, you should perform CPR until emergency medical help arrives. So, it is important for you to know how to perform CPR, because it can help save a life.
We shouldn’t be afraid of death, nor life in fear of sudden death. It is merely God’s right. But if we can do something to prevent it (sudden cardiac arrest), why wouldn’t we? Don’t we all would love to live a happy, healthy, long life?

Memories..



Whole Intermediate Studz :

Jacky, Apri, Me, Subhan, Mbak Iik, Antonietta

Franky, Awlisa, Cha Cha,

Iwank, Dudi, Eriya, Nanang, Munchiez





In a senior's wedding when we're @ sarcab Kes 2006
Kloro, Mbak Iik, Nit Not, Me, Putu, Hida, Wulan






Danlanud PTM & staff @ sports day



Ghozali, Toto, Khairan, Me, Wiznu

After celebrating HUT TNI ke 62

Tentara Berjilbab : Why Not?

42 tahun sudah Wara berkiprah di Nusantara. Bukan muda lagi jika ditilik dari usia manusia pada umumnya. Sudah hampir setengah abad. Seiring dengan pertambahan usianya, Wara terus-menerus bebenah diri. Beragam peraturan baru silih berganti muncul untuk lebih menyempurnakan keberadaan dan jati diri salah satu anggota kebanggan TNI AU ini. Diantaranya adalah bergulirnya wacana untuk menambah GAM baru bagi Wara, khususnya bagi Wara muslimah yang menginginkan untuk menyempurnakan agamanya dengan mengenakan jilbab. Walaupun masih baru wacana, namun hal itu cukup merupakan angin segar bagi para Wara yang telah lama mendambakannya.

Seperti pernah ditulis pada beberapa edisi yang lalu mengenai “Fenomena Jilbab”, bahwa perintah berjilbab telah disyariatkan bagi para muslimah yang beriman seperti tersurat dalam Al-Quran maupun hadits Rasulullah saw. Allah swt. menjelaskan sifat-sifat pakaian wanita dengan firman-Nya :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab : 59)

Allah swt. juga menjelaskan penutup kepala dengan firman-Nya :
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (An-Nuur : 31)

Dalam hadits pun disebutkan :
“Dua golongan termasuk penghuni neraka dan belum pernah kulihat sebelumnya; yaitu wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, jalannya berlenggak-lenggok, rambut kepala mereka seperti punggung unta yang miring. Mereka tidak melihat surga dan tidak menciumnya. Dan orang-orang laki-laki yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi dan mereka gunakan untuk memukul manusia.”

Dari keterangan diatas disebutkan bahwa dua golongan manusia tersebut tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari jarak 500 tahun. Maka, maukah kita, sanggupkah kita termasuk kedalam golongan tersebut? Sedemikian jauhnya dari surga yang menjadi impian dan harapan setiap manusia beriman? Na’udzubillah min dzalik.

Sebagai pembanding, mari kita lihat negara-negara barat yang sekuler, dimana umat muslim adalah minoritas, seperti Amerika dan Inggris. Di Amerika, mereka telah memberi kesempatan bagi muslimah yang ingin menjadi tentara dan mereka diperbolehkan mengenakan jilbab.

Sekarang ini, banyak tentara Amerika yang berjilbab.Hal serupa dilakukan juga oleh Inggris. Warga negara Inggris yang muslimah dibuka kesempatan untuk menjadi polisi. Untuk mereka juga disediakan contoh seragam jilbab yang akan dikenakan bila kelak mereka menjadi polisi.
Karena itulah, di negara-negara tersebut, dimana tentara wanitanya berperan di lapangan tidak berbeda dengan tentara prianya, tidak menganggap jilbab sebagai penghalang dari aktivitas mereka. Mengapa kita tidak bisa? Negara kita sudah dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia.

Muslimah Indonesia sudah banyak yang tampil menjadi wanita karier, pengusaha sukses, artis, dan lain sebagainya. Mengapa tidak dengan tentara wanitanya? Selama ini, pandangan masyarakat mengenai tentara masih cukup baik. Terutama tentara wanitanya. Tentara masih dianggap sebagai contoh dan teladan dalam beberapa aspek. Alangkah baiknya apabila hal tersebut diikuti dengan memberikan contoh dalam berbusana muslim, dan tentu saja diikuti dengan akhlak yang baik. Tentu hal tersebut akan semakin mengangkat pamor TNI di mata masyarakat.

Gagasan mengenai tentara berjilbab ini, telah lama diwacanakan. Wacana tersebut menguat saat salah seorang anggota Komisi I DPR RI berkunjung ke Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Darat di Bandung beberapa waktu lalu. Saat berbincang dengan para Kowad disana, anggota Komisi I tersebut menangkap adanya keinginan dari para Kowad tersebut untuk mengenakan jilbab, namun masih terbentur dengan peraturan. Fenomena keinginan yang terbentur peraturan inipun telah lama dan umum dijumpai di kalangan wanita TNI, dimana mereka mengenakan busana muslimah yang tertutup rapat diluar jam dinas, namun terpaksa menanggalkannya pada jam dinas. Hal tersebut selanjutnya disampaikan pada saat dengar pendapat dengan Kepala Staf Angkatan Darat. KSAD menyambut positif gagasan tersebut dan berjanji akan menyampaikan hal itu kepada Panglima TNI. Namun tentunya, hal ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara komando atas Kowad, Kowal dan Wara, karena keputusan akan berada di tangan mereka.

Bagaimana selanjutnya? Adakah langkah lebih lanjut untuk menindaklanjuti hal ini? Tentunya dengan komitmen, bahwa pemakaian jilbab tidak akan mengurangi kualitas kinerja dan produktivitas wanita TNI itu sendiri. Dan sebaliknya, akan meningkatkan mutu kerja dan akhlak mereka baik dalam pergaulan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan menjadi sorotan dan contoh dalam masyarakat. Dan tentu saja kita tidak lantas akan jadi muslimah yang ekstrim, seperti tentara-tentara wanita di Iraq, Iran atau Afghanistan. Karena kita adalah TNI yang tetap memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Mengabdi pada bangsa dan negara tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan. Namun kita dapat mencontoh profesionalisme mereka. Dengan gamis yang longgar sepanjang mata kaki dan jilbab yang menutupi dada, mereka tetap dapat menyandang senjata, berpedang, melakukan tugas-tugas yang tak beda dengan pria. Jika kelak para pimpinan memutuskan untuk mulai membicarakan hal ini dengan lebih serius, pengenaan jilbab dapat disesuaikan dengan penggunaan seragam yang telah ada, dengan menambah beberapa modifikasi. Misalnya dengan penggunaan celana panjang, dan sebagainya. Di masa kini atlet sudah diperkenankan mengenakan jilbab atau busana muslimah. Itu berarti bahwa pilihan berbusana mereka tidak menghalangi aktivitas mereka. Dan berarti bahwa wanita TNI pun tidak perlu khawatir akan terhalangnya aktivitas mereka. Apabila kewajiban bagi negara dan kewajiban dalam agama dapat berjalan seirama… Alangkah indahnya dunia…

Menjadi Istri yang Selalu Dicintai Suami

Kebanyakan istri beranggapan bahwa mereka berhak atas cinta suaminya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, karena memang salah satu pilar tegaknya sebuah rumah tangga bahagia adalah adanya mawaddah (cinta) antara suami istri. Tetapi patut direnungkan, bahwa cinta tidak datang dengan sendirinya, dan ketika ia hadir, tidak ada yang dapat menjamin ia akan menetap selamanya. Apa artinya ini? Ya, artinya adalah bahwa cinta memerlukan usaha! Jika ingin suami selalu cinta kepada Anda, Anda tidak boleh hanya diam dan berkata, "lho, diakan suami saya, otomatis dia mencintai saya dong! Kalau tidak, ngapain dia memilih saya untuk jadi istrinya?"Bahwa suami mencintai Anda karena Anda adalah istrinya memang betul,tetapi apakah Anda yakin cintanya selalu ada dan terus ada selamanya? Banyak perempuan yang tidak merasa yakin, setelah menjalani kehidupan rumah tangganya sekian tahun, apakah suami saya masih mencintai saya seperti dulu? Karena itu, berhentilah bersikap pragmatis, berusahalah membuat suami Anda selalu cinta, bahkan dari hari ke hari semakin bertambah cinta kepada Anda! Sebelum membicarakan cara membuat suami selalu cinta, ada satu hal yang menjadi inti persoalan dan tidak boleh dilupakan, yaitu bahwa cinta adalah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya, daninilah yang disebut cinta yang hakiki atau cinta sejati. Allah-lah pemilik cinta, Allah-lah yang menjadikan cinta antara suami-istri."Dan diantara ayat-ayatNya adalah diciptakanNya untukmu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QSAr-Ruum:21)

Karena itu, diatas segala-galanya, seorang istri yang ingin selalu dicintai suaminya hendaknya menyadari bahwa jurus yang paling pentingdan efektif untuk meraih itu adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Yaitu dengan berusaha sekuat tenaga untuk mentaati dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Dengan kata lain, dengan cara berusaha menjadi seorang muslimah shalihah. Harm bin Hayyan, seorang ulama di masa Khalifah Umar bin Khattab ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orang mukmin kepadanya, dan istri yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan mendekatkan hati suaminya kepadanya sampai ia mendapatkan cintanya."

Enam Saran Agar Suami Selalu Cinta

Berusaha dengan tulus dan ikhlas 'menyerahkan hidupnya' untuk berbaktikepada suami sambil berharap pahala Allah. Potensi yang dimilikinya,kedudukannya di masyarakat dan kesibukannya beraktivitas diluar rumah tidak membuat dirinya terlena dan lupa bahwa ia memiliki peluang meraih syurga Allah dengan berbakti kepada suaminya. "Apabila seorang perempuan menunaikan shalat, puasa, memelihara kemaluannya dan berbakti, mentaati suaminya, dia akan masuk syurga." (HR al-Bazzar).Istri seperti ini memiliki nilai yang tinggi di mata suaminya dan akan selalu dicintai suaminya.

Berusaha untuk menjadi perempuan yang bersahaja dalam nafkah. Tidak banyak menuntut, menerima dengan rasa syukur betapapun sedikitnyapemberian suami, dan tidak berlebihan dalam membelanjakan nafkah yang diberikan suami. Bila Anda sanggup selalu bersikap seperti ini, cinta suami akan selalu tercurah untuk Anda.

Sederhana dalam penampilan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa umumnya laki-laki tidak menyukai perempuan yang berpenampilan seronok dengan wajah penuh riasan tebal, sebaliknya kesederhanaan lebih menarik bagi mereka karena menurut mereka lebih memancarkan kecantikan perempuan. Tetapi ini tentu saja relatif, karena itu, kenali kecenderungan suami Anda, apakah ia menyukai penampilan yang wah atau yang sederhana? Kemudian setiap bersamanya, sesuaikan penampilan Anda dengan kecenderungannya itu. "Sebaik-baik perempuan adalah yang menyenangkanmu bila engkau memandangnya, mentaatimu bila engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu bila engkau tidak dirumah" (HR Thabrani).

Berusaha untuk selalu sabar dan tidak menyakiti hati suami. Adanya perselisihan atau perbedaan pendapat diantara suami istri terkadang dapat memicu terjadinya pertengkaran kecil atau besar. Bila Anda menghadapi keadaan ini, ingatlah, Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang Allah berikan kepadanya hak yang sangat besar atas diriAnda. "Seorang perempuan belum dianggap menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya." (HR Ibnu Majah).

Karena itu apapun yang bergejolak dihati Anda, berusahalah untuk tetapsabar dan menahan diri untuk tidak menyakiti hati suami Anda."Tidaklah seorang perempuan menyakiti hati suaminya di dunia,melainkan bidadari calon istrinya (di akhirat) berkata, "Janganlahengkau sakiti dia, Allah membencimu. Sesungguhnya dia disisimu hanyasementara waktu, dan akan berpisah darimu untuk berkumpul dengankami." (HR Ahmad).
Percayalah, istri yang mampu bersikap seperti ini akan selalu dicintai suaminya.

Dapat mendampingi suami dalam suka dan duka. Roda kehidupan selalu berputar, kadang manusia mengalami saat-saat yang menggembirakan dimana kehidupan berjalan sesuai dengan harapan. Adakalanya manusiamengalami hal yang sebaliknya. Nah, apapun keadaan yang dialami suami Anda, berusahalah menjadi pendampingnya yang setia. Disaat suka menjadi pengingat agar suami tidak terlena, disaat duka menjadi pelipur lara.

Berusaha untuk menjadi partner yang menyenangkan di kamar tidur.Banyak perempuan masih merasa malu untuk bersikap agresif meski kepadasuaminya sendiri. Ini karena adanya anggapan bahwa perempuan yang agresif terkesan murahan dan tidak terhormat. Tentu saja anggapan ini tidak berlaku untuk seorang istri yang agresif kepada suaminya sendiri. Belajarlah cara dan teknik menyenangkan suami di tempat tidur dan Anda akan mendapati suami selalu melimpahkan cintanya untuk Anda!

Selamat mencoba!

Lily from the East

Ayah dan Ibu nampak letih. Namun bayang keletihan itu seketika terhapus dengan rasa sukacita bercampur haru saat melihatku, anak sulungnya yang telah bertahun terpisah. Ayah nampak lebih kurus. Ubannya semakin banyak dibanding 3 tahun lalu. Tapi badannya tetap liat dan kesat, khas badan petani desa yang telah tertempa puluhan tahun kerja keras. Mata ibu berkaca-kaca memandangku dengan haru dan penuh rindu. Wajahnya masih seperti yang dulu, lembut, sabar dan penuh kasih. Kupeluk mereka bergantian. Rindu yang terpendam selama 3 tahun, terbalas sudah.
“ Apa kabar Ayah, Ibu? Sehat? Mana Tiwi dan Ragil?” tanyaku sambil menyeka mataku sendiri yang berkaca-kaca.
“ Alhamdulillah Nak. Kami sehat. Kau sendiri? Kau kurus dan lebih hitam ya?” balas Ayah mencoba bercanda.
“ Adikmu entah kemana tadi. Si Ragil tadi mengeluh haus, lantas Tiwi mengajaknya mencari minuman. Ah… itu mereka...” jawab ibu sambil menunjuk 2 sosok di kejauhan. Tiwi sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang manis. Pasti dia jadi kembang di kampung. Si Ragil sendiri sudah beberapa senti lebih tinggi dari 3 tahun yang lalu. Bahkan dia sekarang sudah setinggi bahuku walaupun usianya baru 10 tahun.
“ Mas Bintaaaaang….” teriak mereka hampir bersamaan sambil menghambur ke arahku. Kupeluk mereka bergantian. Rindu sekali kurasa. Masih jelas kuingat bagaimana dulu kami sering ikut Ayah dan Ibu ke ladang, membuat boneka dari jerami, berkejaran di sela pepohonan…
“ Waaahhh, mas Bintang kereeenn… Gagah sekali. Beda sama dulu.” Ujar Tiwi sambil memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memegang-megang berbagai atribut yang tersemat di bajuku. Bertanya-tanya “apa ini-apa itu”. Kulayani mereka dengan senang hati.
“ Si Ragil senang sekali lihat atraksi-atraksi yang tadi itu. Bagus sekali ya? Apa itu tadi namanya?” ujar ibu.
“ Iya Mas. Ada yang pake topeng harimau ya… Bajunya juga bagus-bagus. Wuah, gagah pokoknya.” Sahut Ragil dengan bersemangat.
“ Oh, itu grup marching band sini. Bagus kan? Ragil mau jadi seperti mereka?”
“ Mereka itu tentara juga ya?”
“ Iya, seperti Mas-mu ini. Mas dulu juga main seperti mereka waktu senior-senior Mas dilantik.” Jawabku sambil mengacak rambutnya.
“ Oh, begitu… Gak mau ah.. Ragil gak mau jadi tentara. Orang di kampung bilang, jadi tentara itu gak gampang. Trus nanti gak bisa pulang ke kampung lagi. Kerjanya pindah-pindah terus. Kasihan Ayah sama Ibu nanti. Sendirian di kampung. Ragil mau di kampung aja ah. Jadi petani, seperti Ayah. Nemenin Ayah sama Ibu… Biar Mas Bintang aja yang jadi tentara. Kita sudah senang sekali Mas…” ujarnya dengan bersemangat. Dalam hati aku kagum pada adik bungsuku ini. Sejak dulu dia memang paling dekat dan paling menurut dengan Ayah dan Ibu.
“ Oh iya Mas, tadi Tiwi juga lihat banyak perempuan yang pake baju tentara juga. Itu tentara betulan Mas?” tanya Tiwi. Maklumlah, selama ini mereka belum pernah melihat wanita TNI.
“ Oh, iya. Mereka tentara juga. Ada Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara juga.”
“ Wah, keren ya Mas. Kelihatannya gagah gitu. Tiwi jadi pengen jadi tentara juga. Bisa gak Mas?”
“ Ya bisa banget. Makanya sekolah yang pinter. Nanti lulus SMA kamu bisa daftar jadi bintara. Atau kamu mau kuliah dulu, terus setelah sarjana, kamu bisa daftar langsung jadi perwira.” Jelasku. Tiwi nampak sangat tertarik dan menimbang-nimbang kemungkinan yang ada.
“ Tapi, nanti pendidikannya juga 3 tahun kayak Mas Bintang?” tanyanya lagi.
“ Enggak. Kalau bintara, pendidikannya sekitar 5 bulan. Kalau perwira sekitar 7 bulan.”
“ Wah, enak ya, cuma sebentar. Tiwi mau ah, jadi tentara wanita. Boleh kan, Bu?” tanyanya pada Ibu sambil merangkul lengannya.
“ Ibu sih, terserah kamu saja. Yang penting kamu sekolah yang pinter sampai lulus.. Mau langsung daftar, atau mau kuliah dulu, terserah kamu. Ayah dan Ibu ini cuma sekedar membiayai dan mendoakan. Mendukung semua cita-cita kalian, asalkan baik..” ujar Ibu sambil tersenyum dan mengelus kepala Tiwi.
Kami pun berjalan beriringan meninggalkan lokasi upacara menuju tempat penginapan. Sesekali kami berhenti, menyalami dan mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman seangkatanku dan keluarganya yang kami temui dalam perjalanan.

Sesampai kami di penginapan, kami merebahkan diri sambil terus bercerita. Menceritakan hal-hal yang terjadi selama 3 tahun kami berpisah. Tentang si Wening, gadis manis teman SMP ku, yang dulu sempat naksir aku, tapi tak kutanggapi karena aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Kata Tiwi, dia kini sudah menikah dengan Agus, anak juragan Gunadi, dan sudah punya 1 anak. Ragil berkelakar tentang si Feri, teman sekolah Tiwi yang sering datang ke rumah dengan berbagai alasan untuk mendekati Tiwi, membuat kakaknya itu jadi bersemu merah. Tentang Uwak Untung yang meninggal bulan puasa lalu karena tertimpa pohon yang tumbang saat berladang di hari hujan. Tentang lapangan bola tempat kami biasa bermain yang kini semakin ramai karena di sekelilingnya banyak dibangun tempat jualan berbagai macam barang dagangan. Semua itu membuatku semakin rindu akan kampung halamanku. Tak sabar rasanya ingin segera pulang, berkeliling desa, bersepeda, mengunjungi tempat-tempat yang dulu biasa kukunjungi, naik ke hutan mencari durian dan buah-buah hutan yang enak, dan melihat perubahan apa saja yang telah terjadi selama aku pergi. Esok… Esok aku akan pulang..




Tak terasa 6 tahun sudah aku berdinas. Sudah 2 kali aku berpindah tempat tugas. Pangkatku pun kini sudah menjadi Letnan Satu. Kini aku berdinas di Ibukota. Selama berdinas, baru sekali aku pulang kampung. Itu saat aku mutasi, dari tempat dinas pertamaku, di pulau kecil di Timur Indonesia, ke tempat kerjaku yang sekarang. Kusempatkan waktu untuk sejenak pulang barang sehari dua. Waktu itu aku hanya bertemu dengan Ayah, Ibu dan Ragil yang sudah tumbuh semakin tinggi setinggi aku. Sedangkan Tiwi, akhirnya membulatkan tekad untuk mendaftar bintara setamatnya SMA, dan saat itu dia sudah 2 bulan pendidikan. Saat pelantikannya 4 tahun yang lalu, akupun dengan sangat menyesal, hanya bisa mengucapkan selamat lewat telefon, karena saat itu aku sedang dinas luar mengikuti Komandanku. Rindu sekali aku padanya. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana tampangnya sekarang dalam seragam dinas. Pasti dia bertambah cantik. Dan 9 April ini, adalah kesempatan kami untuk bertemu. Dari ceritanya, dia kini jadi salah satu peterjun wanita yang cukup bisa dibanggakan. Dan dalam upacara nanti, dia akan ikut memeriahkannya dalam salah satu atraksi terjun. Tentu saja aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku telah berjanji pada Ayah dan Ibu di kampung untuk merekam atraksinya nanti.

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sejak pagi, aku dan puluhan orang lainnya sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu di lapangan upacara. Jangan sampai ada yang kurang, karena Inspektur Upacaranya adalah Kepala Staf. Pada jam yang telah disepakati, upacara dimulai. Semua berjalan lancar. Selepas upacara, tiba saatnya menampilkan berbagai atraksi yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Marching band, devile, peragaan bela diri, akrobatik pesawat tempur, dan akhirnya yang kutunggu-tunggu, terjun payung. Dari ceritanya saat menelfonku beberapa waktu yang lalu, hari ini dia akan terjun membawa bendera Swa Bhuwana Paksa. Kehormatan itu dipercayakan padanya karena prestasinya yang memang luar biasa selama ini, memenangi berbagai kejuaraan di dalam dan di luar negeri. Entah sudah berapa medali emas dikoleksinya. Bangga sekali aku pada adikku ini. Prestasinya ternyata melesat melebihi aku sendiri.

Dari kejauhan payung-payung mulai mengembang. Satu persatu para peterjun mendarat di titik yang telah ditentukan dengan mulus. Berbagai formasi disuguhkan dengan sukses. Sampai akhirnya tiba giliran para pembawa bendera. Satu persatu bendera mulai nampak. Itu dia adikku, membawa bendera besar berwarna biru kebanggan kita. Jantungku ikut berdebar mendoakan semoga semuanya berjalan mulus. Semakin dekat ke permukaan tanah, perasaanku semakin mengharu biru antara rindu dan bangga. Bendera ditangkap dan dirapikan, dan adikku pun mendarat dengan mulus persis di depan tribun VIP. Dengan tangkas dia melepaskan parasutnya, mencabut setangkai mawar merah dari pinggangnya, berjalan menuju Inspektur Upacara, memberi hormat dengan sigap dan menyerahkan bunga itu sebelum balik kanan dan berlari menuju tempat berkumpul.
Aku merekam semua itu dalam kamera kecilku. Tiwi yang dulu lemah lembut, lugu dan tenang, kini menjelma menjadi sesosok wanita TNI yang tangguh, gagah berani, kuat, sigap namun tetap cantik. Malahan, lebih cantik dari yang pernah kuingat. Aku bangga padanya.
Dia cantik seperti bunga, namun tetap sederhana, tidak jumawa. Harum mewangi karena prestasi dan nama baiknya. Membawa nama keluarga, tempat asalnya, almamaternya, TNI dan negara Indonesia. Karena itu, kujuluki dia Lily. Karena kecantikannya yang sederhana seperti bunga Lily. Lily from the East…